Tampilkan postingan dengan label pasangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasangan. Tampilkan semua postingan

- Tips Bunda dan BayiMendidik Anak Pre-Aqil Baligh Bersama Suami di Rumah

Mei 01, 2018 Add Comment



Ayahnya dulu ambil jurusan perkuliahan teknik, memahami bagaimana mengatur segala sesuatunya bisa berjalan dengan sistematis, berfungsi dgn baik dan memeliharanya..
Unnanya dulu ambil jurusan perkuliahan psikologi, memahami bagaimana jiwa seorang manusia..

.
.

Ko beda jauh sih?
Lalu apa ada yg salah?
Engga.. Semua udah takdir Allah yg mempertemukan kita, ibaratnya nih kita pribadi pun ada alasan untuk hidup di dunia ini, lalu dipertemukan dgn pasangan kita..
Sempurna lah separuh agama kita dan tinggal berkolaborasi lah bersama pasangan kita yg pastinya ada alasan kenapa Allah mempertemukan kita.. So deep ??
Ga sekedar cuman cicintaan yaa bro-sist.. ??

.
.

Banyak hal, misal terkait aktualisasi diri kita yg statusnya sudah berbeda bukan lagi single, tp sudah punya gelar, ayah dan Bunda ??
Musti berfikir 2-3x untuk berbuat sesuatu dan mengambil keputusan..
Ingin tetap berkarya tapi bisa ko dari rumah dan terlibat semua anggota keluarga..

.
.

Terkait pendidikan anak, nah yg ini kita masih bau kencur ?? jauh dari pengalaman mereka yg sudah berhasil mendidik dan membanggakan keluarga, negara, dan agama..

.
.

Baru diamanahi seorang anak sholehah (insyaallah) yg beranjak menuju 2 tahun, mau di didik apa sih? "Ntar aja kalau dah gede.. Skg mah main main aja dulu..", mereka bilang.

Iya betul ko.. Anak itu dunianya bermain ??
Tapi kita sedang berusaha tuk hadirkan home education sesuai dgn usianya..
Setiap tempat adalah sekolahnya..
caranya ?
? mengenalkan dgn penciptanya
? memberikan contoh yg sesuai syariat agama kita
? mengajarkan adab dulu sebelum ilmu
? mengajak belajar bersama Alam
? mengenalkan kearifan lokal dan bahasa Bunda
? optimalisasi golden age

.
.

Jadi, saya dan suami tidak bisa saling tuduh/menyalahkan, kamu yg didik anak krn kamu lebih paham jiwa..
kamu aja yg sempet jadi guru..
kamu kan imam kamu yg wajib tanggung jawab..
kamu yg full di rumah yg lebih tau..

.
.

No..
Ga ada kata aku kamu..
Kita berkolaborasi,
Saling mengisi,
Saling mengkoreksi,
Dan saling support...
Semua orang adalah guru..
Terutama kitalah yg Allah percayakan untuk mendidiknya..

Kita pegang tangan anak kita dengan erat..
Jaga amanah-Nya ini, bidadari surga ini.. ????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 3 - Fitrah Orangtua (Keayahbundaan)*

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????????

*Materi Pokok* 3?
*Fitrah Orangtua (Keayahbundaan)*



Penulis :
Ust. Adriano Rusfi, Psi

"Tetap optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah ayahbunda."

Bahkan pada tiap ayahbunda parenting yang diinstall pun berbeda-beda. Begitulah hebatnya ilmu Allah.

Selain belajar tentang fitrah anak, mari belajar fitrah ayahbunda. Karena yang paling ahli mendidik anak bukanlah saya, tapi ayahbunda mereka.

Fitrah ayah dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka.

Fitrah ayahbunda itu minimal ada tiga :

Pertama, fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi dan sebagainya. Jadi, dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayahbunda juga manusia, bukan robot parenting

Kedua, fitrah sebagai laki-laki dan perempuan, yang wujud dalam maskulinitas dan femininitas. Sehingga, dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan.

Ketiga, fitrah sebagai orangtua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak-anak. Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.

Jangan sampai teori parenting yang kita pelajari melumpuhkan naluri, intuisi dan firasat parenting kita.

"Minta fatwalah pada hatimu, karena kebajikan adalah apa-apa yang menenteramkan hati" (dari HR: Ahmad 4/227-228)

Mereka-mereka yang terbiasa dengan amalan nafilah (sunnah), maka Allah akan menjadi mata, telinga, tangan dan kaki, yang dengannya di melihat, mendengar, bekerja dan berjalan (dari Hadits Qudsi)

Belakangan kita agak mengabaikan dan kurang mempertajam firasat. Padahal Rasulullah SAW bersabda :

"Hati-hatilah dengan firasat mu'min. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah"

Parenting yang baik adalah parenting yang mampu meningkatkan kepercayaan diri para Ayahbunda untuk mendidik anak-anaknya sendiri berdasarkan fitrah pendidikan.

Parenting yang buruk adalah parenting yang membuat Ayahunda tergantung kepada para mentor parenting dalam mendidik anak-anaknya.

Jika ditanyakan kepada saya "apa modal yang terbaik dalam parenting?", maka saya akan mengatakan modal terbaik dalam parenting adalah cinta dan ketulusan.

Sebagai Ayahbunda dengan segala kelemahannya, maka kita pasti akan melakukan sejumlah kesalahan dalam mendidik anak-anak kita. Namun, cinta dan ketulusan akan mengkoreksi segala kelemahan dan kesalahan tersebut.

Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka.

Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita.

Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.

Bashirah dalam hal apapun lahir dari totalitas, dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap segala hal yang akan kita tangani.

Allah telah berjanji bahwa orang-orang yang total dan dedikatif dalam menangani segala hal, maka Allah akan menunjukkan banyak jalan baginya. Dan mereka mereka yang telah menjual dirinya kepada Allah, diantaranya melalui pendidikan bagi anak-anaknya, maka Allah akan menjadi penyantun baginya.

Sahabat, Tentang cara mempertajam bashirah saya sudah menyampaikannya di atas

Salah satu indikatornya adalah : jika hati kita tenteram untuk melaksanakan sesuatu terhadap anak-anak kita, walaupun itu bertentangan dengan sejumlah teori parenting, maka sesungguhnya ketentraman hati itu adalah pertKamu dari bashirah Islamiyah.

Bashirah Islamiyah itu bukan hanya menjadi hak prerogatif dari orang-orang yang memiliki tingkat keimanan tertentu saja, karena sesungguhnya Allah tidak pernah kikir memberikan ilham-ilhamNya kepada siapa saja.

Bahkan ilham dari Allah Ia berikan terhadap orang kafir sekalipun. Makanya tak mengherankan jika kreasi iptek banyak Allah ilhamkan kepada orang-orang kafir.

Jadi jangan pernah merasa tak cukup bertaqwa untuk bertanya pada hati. Allah tidak se selektif yang kita bayangkan. Kasih-sayangNya jauh melampaui angan-angan paling optimis kita

Sahabat, Jauhi hal-hal yang meragukan, lakukan hal-hal yang hati kita yakin

Yakin itu bermula dari ilmu yang melahirkan pemahaman. Jika sebuah ilmu justru melahirkan keraguan dan ketidakpercayaan diri, maka ilmu itu harus dijauhi

Ragu dan waswas itu datang dari syaithan. Obatnya adalah ilmu dan ta'awudz



??????????????????
Disusun kembali oleh Tim Fasilitator HEbAT Community
---------------------------------------------

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 2 - Pernikahan Ideal Gerbang Awal Menuju HE

September 17, 2017 Add Comment
??????????????????????

*Materi Pokok 2?*
*Pernikahan Ideal Gerbang Awal Menuju HE*
?? Ust. Adriano Rusfi



-------------------------------------------------------

_"Hai Anak Muda, menikahlah sebelum mapan. Agar anak Kamu dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda. Agar Kamu dan anak-anak Kamu kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah. Jangan sampai Kamu meninggalkan anak Kamu yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan."_ (Ust.Adriano Rusfi)

Waktu berjalan cepat, kehidupan menuntut manusia untuk lebih cepat tanggap terhadap keadaan. Salah satu keadaan yang paling urgen adalah kedewasaan mental.

Salah satu bukti bahwa seseorang sudah dewasa secara mental adalah ketika seseorang sudah mampu mencukupi dirinya sendiri, bertanggung jawab dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Keberanian untuk mengambil resiko kiranya menjadi mutiara yang berharga di tengah arus global yang sarat memanjakan harapan.

Kedewasaan mental tak diukur dari menjamurnya umur, namun diukur dari seberapa besar kemampuan untuk mengatur sebuah persoalan menjadi tantangan. Ya, masalah harus dihadapi dan tantangan harus diselesaikan. Salah satu masalah dan tantangan yang Allah taqdirkan adalah saat pria dan wanita mulai mengikat janji suci dalam gerbang pernikahan. Semua bermula saat mereka menjadi pasangan suami dan istri.

Saat telah menjadi suami dan istri, kedewasaan mental amat diperlukan. Karena hanya pasangan suami dan istri yang dewasa lah, yang tidak akan takut terhadap kalkulasi-kalkulasi dunia yang menggelembung seakan tak bisa dijangkau. Justru di tengah keterbatasan itulah terdapat berBunda kebahagiaan bagi orang yang tak pernah putus asa. Sebab pahala kesabaran adalah pahala yang tidak ada ukurannya.

Di Indonesia, kaum adam mestinya lebih bersyukur karena bila mental sudah matang dapat lebih mudah melangkah ke jenjang pernikahan. Di negeri ini, kaum hawa tak banyak menuntut mahar yang mewah, tidak seperti di negara-negara lain. Di negara-negara tertentu, mungkin Kamu akan menjumpai betapa mahar yang perlu dihadiahkan sangat besar sehingga tak jarang dari mereka menikah setelah berumur 30an.

Kini, Kamu dapat selangkah lebih maju menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dalam istilah Rosul adalah setengah dari agama. Kehidupan sarat berbagai pahala besar yang diidentikkan sebagai bagian dari ibadah terindah bagi anak manusia.

?? Alasan pentingnya pernikahan menjadi gerbang Pendidikan Fitrah:

1. *Keluarga dibangun di Atas Mimpi-Mimpi Besar*
Bagi laki laki, menikah tidak cukup mengandalkan ketampanan. Lebih dari itu, seorang laki laki yang kedepannya menjadi seorang ayah harus mempunyai tanggung jawab yang matang. Tanggung jawab itulah kekayaan terbesar dalam sebuah rumah tangga. Sebuah rumah tangga akan berjalan sebagaimana mestinya bila kedua pasangan dapat memahami tanggung jawab dan peranannya masing-masing.

Selain itu, juga akan mengantarkan pasangan suami istri untuk lebih fokus ke arah cita-cita besar. Bukan berpikir bagaimana yang penting bisa makan, namun berpikir bagaimana bisa memberi makan orang lain (anak). Rumah tangga baru seperti inilah rumah tangga yang masih dipayungi semangat idealisme. Lambat laun pasti akan menemukan jalan kebijaksanaan dalam beridealisme.

Keluarga yang dibangun dengan mimpi-mimpi besar adalah keluarga yang berperan bagi terbangunnya batu bata peradaban melalui pendidikan keluarga yang visioner, bertujuan dan strategis

2. *Mendidik Anak Lebih Baik dari Orang Tuanya*
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya. Melalui berbagai kegagalan ayahnya di masa muda, juga kebersamaan dalam menjalani rumah tangga dari nol justru akan menguatkan sebuah ikatan bahtera rumah tangga.

Nah, dari masalah-masalah yang timbul itulah sebuah keluarga akan menjadi kuat bila dihiasi dengan kesabaran yang terbaik. Dengan demikian, nasehat seorang ayah bukan hanya di bibir, namun dari hati seperti nasehat bijak seorang Lukman.

Pasangan yang menikah dengan niat baik, akan mendidik anaknya mencapai prestasi yang dituju. Belajar dari masa muda masing masing, pasangan suami istri akan mengajarkan kepada anaknya bahwa kesalahan itu sebuah resiko yang merupakan proses menuju tangga kebenaran.

Dengan kata lain, anak yang dilahirkan pasangan suami istri yang baik, tidak akan takut mencoba hal-hal baru. Justru hal-hal baru tersebut akan terus memacu anak untuk menemukan dan terus mencari sendiri kebenaran hakiki.

3. *Hidup adalah Kerja Keras*
Dengan segenap keterbatasan, pasangan suami istri akan memberikan pelajaran kepada anaknya bahwa hidup adalah perjuangan penuh kerja keras. Di dalam kehidupan, orang yang mempunyai bakat tidak akan berhasil tanpa adanya kerja keras. Karena kerja keraslah penentu keberhasilan seseorang. Tuhan hanya melihat kerja keras manusia, kesungguhan untuk meraih segala cita-cita.

Begitu pula di dalam rumah tangga, terlalu memanjakan anak dengan mudah memenuhi segala kebutuhan berakibat menghambat potensi anak. Selain itu, akan berbahaya juga bagi masa depannya karena hidup yang diketahui sebatas ingin dan segera terpenuhi. Terlebih, jangan sampai anak kita nanti tidak tahu bahwa hidup sebenarnya adalah penuh kerja keras.

4. *Life is Begin at Fourty*
Hidup yang sebenarnya adalah hidup ketika menginjak umur 40 tahun. Usia 40 tahun adalah usia matang dan menjadi usia yang harus sudah mapan. Mapan di sini dapat diartikan sebagai kemapaman psikologis dan kemapanan materi.

Kemapanan psikologi dapat berupa kesempurnaan akhlak dan moral menuju masa depan yang sebenarnya. Sedangkan mapan secara materi, seseorang yang telah berumur 40 tahun sudah tidak lagi memikirkan hal-hal bersifat materi duniawi.

Sebuah rumah tangga yang memapankan dirinya di usia 40 tahun akan memiliki nafas perjuangan yang lebih panjang hingga akhir hayat. Karena tubuh, jiwa dan ruhani yang masih sangat bugar.

Jangan biarkan waktu kalian dimasa lajang berlalu begitu saja tanpa adanya percobaan hal-hal yang baru. Habiskanlah rasa penasaran, kegagalan dan seluruh kematangan rencana Kamu di masa lajang. Jangan sampai ketika masa berumah tangga Kamu menghampiri, Kamu baru sadar akan keinginan-keinginan dan ambisi Anda. Umur 40 adalah umur terbebasnya dari segala keinginan.


5. *Menikah Usia Muda Solusi Kehidupan*
Menikah di usia muda juga akan membantu Kamu menyelesaikan urusan-urusan dunia. Sebagaimana dalam Al Quran, bahwa menikah bukan hanya dicukupkan, namun Allah memberikan janji akan mengkayakan bagi setiap hambanya yang beriman.

Menikah muda merupakan solusi agar ketika Kamu berumur usia lanjut, sudah tidak memikirkan biaya kehidupan seperti biaya listrik, sekolah anak dan biaya-biaya lainnya. Biarlah anak Kamu nantinya yang akan menjaga Kamu menikmati masa-masa penuh kebahagiaan.

Menikah di usia muda akan melahirkan keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan sejuta idealisme yang masih membuncah, dan diserap oleh anak-anak yang lahir dengan kualitas genetik kelas wahid dari rahim yang masih fresh.

6. *Dunia Butuh Anda*
Setelah melewati liku-liku perjalanan pernikahan di usia muda, akan tiba saatnya segala kebutuhan Kamu terpenuhi. Kini, kesBundakan Kamu hanya ingin membantu dan membantu sesama manusia mewujudkan predikat manusia terbaik paling bermanfaat bagi sesama.

Kenanglah, bahwa peran Kamu sangat dBundatuhkan dunia. Sudah tiba saatnya Kamu membangun apa yang dBundatuhkan dunia, berkontrBundasi dan turut menyumbang secuil peradaban. Wariskanlah kepada anak cucu Kamu nanti bahwa Kamu dulu dikenal sebagai orangtua yang hebat!

Lalu, bagi Kamu yang masih menanti, tunggu apalagi untuk menuju singgasana raja sehari? Dengan memohon keikhlasan Allah, semoga jalan Kamu dipermudah.

??????????????????????

*Keterangan*
1. Judul asli "MENIKAH SEBELUM MAPAN"
2. Judul dan isi telah direvisi sesuai tujuan nilai nilai HE. Serta telah direview dan mendapat izin ustad Adriano Rusfi (SME Utama HEbAT Community).

- Tips Bunda dan BayiKomunikasi Produktif dengan Pasangan #Day7 : Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

Juni 12, 2017 Add Comment

Alhamdulillah saya dikasih kepercayaan lagi sama Allah buat jadi perawat pribadi dari 2 orang pasien, yaitu suami dan anak bayi.
Lucunya mereka berdua ini kalau sakit barengan, jadi kebayangkan gimana sBundaknya dan keteterannya saya.

Kalau anak bayi sakit ya wajar jadi sering nangis, mau mimik terus di eyong-eyong. Nah, kalau ayahnya sakit suka jadi sensitif dan ga sabaran. Ya, namanya juga orang sakit, mana berdaya buat gerak sendiri.

Cuman bingungnya kalau yang satu udah nangis kejer, eh satunya lagi juga sama minta tolong sesuatu dan mesti gerak cepet.

Dua hari berlalu berulang seperti itu, tapi ya rada lumayan sekarang kondisi ayahnya sudah mulai bisa di ajak ngobrol santai. Saya coba pakai kaidah choose the right time, saat kita sedang menulis alamat pengiriman paket.

�Aa, neng teh pengan kalau aa lagi sakit teh coba sabar.. Apalagi ini Ula juga sama lagi ga enak badan, pasti kerjaannya nangis sama mimik terus.. Mungkin kalau Ula udah bisa ngomong, bakalan sama kayak Aa, ingin ini itu ga sabaran yah.. Kan sakit itu penggugur dosa kalau kitanya ikhlas dan sabar..", ucap saya langsung menggunakan kaidah apa yang saya inginkan.

"Nyaa daa sakit atuh kumaha hehe", jawab suami cengengesan sambil nahan sakit. Emang sih kasian suami lagi bengkak gusi-gusinya, dan mulai bermunculan sariawan. Kebayangkan cenut-cenutnya kepala suami pas denger suara bayi nangis.

Sering banget orang sedang sakit memang senstif. Mungkin saya juga kalau sakit bakal kayak gitu. Tapi semenjak saya jadi Bunda RUMAH TANGGA, ga ada tuh dalem kamusnya sakit yg kelamaan. Mesti langsung dilawan. Sabar aja, insyaAllah Allah lah sebaik-baiknya penolong.

Ya, pada intinya salah satunya cara komunikasi dengan kita langsung mengucapkan apa yang kita inginkan kepada pasangan, pesan kita akan langsung tersampaikan.
Dan memang hari tadi suami jadi lebih bersabar dari yang kemarin. Terimakasih yaa Ayah Alula... ??

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

- Tips Bunda dan BayiKomunikasi Produktif dengan Pasangan #Day4 : Dimana ??

Juni 04, 2017 Add Comment



" neng dimana stnk motor tiger ?? Biasa na di dieu ", tanya suami dengan nada yang bikin saya kaget  pas saya lagi buru-burunya masak di saat endure time. Karena Alula ngajak main mulu dari siang.

" iyaa nanti neng cari pas beres masak ", saya jawab dengan nada tenang.

Setelah beres saya langsung ke kamar membantu mencari benda itu. Keliatan banget hehe suami kewalahan, udah biasa sih dia yang suka lupa nyimpen tapi entah lah apakah semua istri seperti ini. Hehe menjadi tumbal pencarian hahaha..

Sampai bedug magrib pun benda itu belum juga di temukan. Oke, kita putuskan untuk berbuka dulu. Setelahnya kita lanjut mencari.

Baiklah daya masih mencoba tenang, tidak banyak berkata-kata, jikapun bicara intonasinya pun menenangkan tidajk ikut naik level, hehe..
Seperti menanyakan, meyakinkan, membantu meruntutkan peristiwa - peristiwa.
Dan yang lebih banyak saya lakukan yaitu bergerak terus mencari, tersenyum, dan tidak tergesa-gesa. Karena saya tau pasti suami lebih melihat attitude atau sikap saya saat itu.

Dan akhirnya ketemu juga benda tersebut di dalam amplop. Dan yakin itu memang bekas dia sendiri yang simpan tapi kelupaan. Hadeuh,, hehe

Biasanya saya kalau menghadapi situasi dan kondisi seperti di atas, saya menggunakan kaidah komunikasi Produktif 7-38-55. Tidak terlalu banyak bicara, ikut merasakan dalam artian empati, dan banyakin actionnya bantuin cari.

Kan biasanya kalau orang lagi kehilangan barang lupa nyimpen dsb suka jadi rada senewen yah, hehe. Tapi saya coba redam dengan tidak ikut-ikutan senewen atau berkata seolah-olah menyalahkan. Karena kalau keduanya seperti itu saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengalah dan bekerja sama. Ya berarti tidak akan ada result-nya.


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#bunsaybatch2