Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan

- Tips Bunda dan BayiMENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR

September 13, 2017 Add Comment
MENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR



Oleh: ustad Harry Santosa


�Baby born as a Scientist� begitu menurut pakar prof. Gopnick yang selama puluhan tahun bergelut dengan dunia anak. Dia melihat anak punya kecakapan setara seorang filsuf dan berfikir ilmiah layaknya seorang pakar sains.

Dalam sebuah riset, seorang anak 3 tahun diberi tantangan untuk menduga mengapa sebuah kotak dengan cara menumpuk tertentu bisa mengeluarkan cahaya lampu dan mengapa dengan cara yang sama kotak lain tidak mengeluarkan cahaya sama sekali.

Dalam hitungan tidak sampai 3 menit, anak usia 3 tahun sudah dapat mengeluarkan banyak hipotesis.

Dalam riset lain, Sugatra Mitra seorang pakar IT, mendapatkan anak anak desa di india, yang tidak sekolah, mampu �self learning� dan mendapat nilai ekselen setara dengan sekolah terbaik dengan guru terbaik di New Delhi, padahal hanya ditinggalkan 8 bulan bersama komputer yang telah dipasangkan pelajaran �DNA Exchange� dan didampingi seorang gadis perempuan yang memberi semangat di belakang mereka.

Wow, inilah kehebatan fitrah belajar dan bernalar yang Allah SWT telah instal kepada makhluk yang ingin dijadikan Khalifatullah fil Ardh. Perhatikanlah bahwa setiap anak sejak lahir adalah pembelajar sejati, tidak ada anak yang memutuskan merangkak sepanjang hidupnya ketika berkali kali jatuh saat belajar berdiri dan berjalan.

Begitulah Allah telah membekalkan manusia agar mampu memikul tanggungjawabnya untuk merawat dan memakmurkan bumi. Dalam Islam manusia memang dilahirkan �bodoh atau tanpa pengetahuan�, tetapi Allah telah menginstal dalam jiwa mereka keimanan, akhlak dasar yang dapat membedakan perlakuan baik dan buruk, kemampuan dasar interaksi sosial, sifat sifat unik, pola makan dan tidur, seksualitas sebagai lelaki dan perempuan dll yang semuanya itu bukan wilayah pengetahuan yang diajarkan, tetapi terinstal dalam jiwanya. Itulah fitrah.

Jangan salah paham, Fitrah bukan tipe kecerdasan, tetapi potensi potensi dasar manusia untuk dirawat, dikuatkan, disadarkan, dikembangkan dan dikokohkan sehingga kelak menjadi peran peradaban dalam segala bidang dasar kehidupan, baik personal maupun komunal.

Khusus untuk fitrah belajar dan bernalar, jika tumbuh paripurna maka kelak peran peradaban yang diharapkan adalah peran innovator yang menebar rahmat bagi alam semesta.

Lalu mengapa sepanjang masa kita menjalani masa persekolahan? fitrah belajar dan bernalar ini seolah redup. Bahkan banyak diantara kita alergi dengan kata �belajar� apalagi �bernalar�. Persekolahan formal dianggap oleh banyak bakar sebagai �penyebab� anak membenci proses belajar dan bernalar.

Belajar seolah menjadi waktu �pengisian konten pengetahuan� yang mengerikan, daaan�.. bel istirahat, bel pulang serta lBundaran adalah masa paling membahagiakan. Bagi kita kebanyakan, belajar dan bernalar di sekolah sebenarnya adalah pacuan yang tak kemana mana (race to no where).

Lihatlah berapa banyak sarjana yang skripsi dan tesisnya adalah karya satu satunya dan terakhir sepanjang hidupnya?

Ya kita sesungguhnya bukan sedang belajar tetapi menjalani �ilusi belajar�. Seolah seperti orang sBundak �belajar� namun pada kenyataannya hanya sekedar memenuhi syarat kelulusan ujian dan berlomba masuk sekolah favorit atau bekerja di tempat yang mapan.

Bekal fitrah belajar dan bernalar yang seharusnya ditujukan untuk mencapai peran inovasi untuk melestarikan dan memakmurkan bumi, berubah menjadi perlombaan atau pacuan orang buta.

Berapa banyak orang yang menghafal rumus rumus namun tak mampu melahirkan karya inovatif. Berapa banyak orang menghafal alQuran namun tak memiliki gairah untuk Tadabur dan Inovasi yang melahirkan karya genuine. Padahal Ummat hari ini membutuhkan kemampuan Tadabur yang hebat.

________________

Lalu bagaimana mendidik Fitrah Belajar dan Bernalar?

Mendidik fitrah belajar dan bernalar harus berangkat dari *keyakinan bahwa semua anak suka dan bergairah belajar. Karenanya tidak tergiur untuk �too much teaching� atau �over stimulus� apalagi drilling dan menerapkan �reward & punishment�.*

Kita sesungguhnya hanya perlu menyemangati, mendorong gairah dan antusiasnya untuk �ikhlash belajar dan bernalar� melahirkan inovasi baru yang ramah bumi di setiap kesempatan dengan membimbingnya memunculkan banyak idea menantang atau menginspirasi agar anKamu melahirkan gagasan hebat.

Usia 0-6 tahun
� Merawat dan menguatkan konsep belajar melalui imaji dan abstraksi serunya belajar dan bernalar.

Di tahap ini imaji dan abstraksi anak sedang pada puncaknya, sementara aspek koginitifnya belum berkembang. Karenananya belajar dan bernalar di masa ini bukanlah dengan mengenalkan symbol dan cara belajar formal kaku. Maka bermain di masa ini adalah proses belajar yang disukai anak.

Permainannya pun bukan permainan kognitif namun permainan imajinatif, misalnya bermain peran �kuda kudaan�, �dokter dokteran� dstnya.

Permainannya harus �open ended� artinya tidak kaku dan dinamis. Jangan abaikan bermain atau berkegiatan di masa anak, inilah proses belajar dan bernalar terbaik untuk membentuk sikap.

Rasulullah SAW ketika usia 0-6 tahun berada di Bani Sa�diyah, setidaknya ada 7 hal terkait fitrah belajar dan bernalar ini yang Beliau dapatkan:

1. Belajar Bersama Alam (BBA), Lingkungan alam pedesaan yang nyaman untuk belajar dan bergerak serta untuk menguatkan senso motoriknya (muscle memory)

2. Bahasa Bunda (mother tongue) yang fasih dan sempurna

3. Belajar bersama orangtuanya untuk membangun kelekatan (attachment)

4. Belajar Kisah Kisah Kepahlawanan bersastra baik dan Kearifan lokal

5. Belajar Kepemimpinan (Executive Functioning) dengan memelihara hewan

6. Belajar Mendaki Bukit untuk membentuk sikap dan fisiknya

7. Belajar Mengenal dan Mencintai Allah melalui ciptaanNya

Belajar bagi anak usia ini adalah proses bermain imajinasi yang menyenangkan dalam cara pandang mereka, bukan cara pandang orang dewasa. Anak yang sudah cinta belajar akan belajar sepanjang hidupnya.

Karenanya jangan tergesa gesa ingin anak serba bisa pada yang tampak, bukan pada apa yang memberi dampak. Anak yang segera bisa membaca belum tentu suka buku dan suka belajar sepanjang hidupnya.

________________

Usia 7-10 tahun
� Masa menumbuhkan dan menyadarkan potensi fitrah belajar dan bernalar

Di tahap ini fitrah belajar dan bernalar sedang pada puncaknya. Logika dan kritis anak sudah berkembang sangat baik. Anak mulai menyadari adanya aturan, adanya symbol, adanya tanggungajawab dstnya.

Di masa inilah perintah Sholat dianjurkan untuk diperintahkan (disampaikam sebagai perintah) karena aqal sudah tumbuh pesat.

Inilah masa emas bagi fitrah belajar dan bernalar ananda. Maka metode terbaik adalah dengan diinteraksikan atau direlevankan dengan alam. Alam menjadi tempat terbaik, metode Belajar bersama Alam menjadi cara terbaik menumbuhkan fitrah belajar dan bernalar.

Logika anak yang tumbuh hebat bertemu dengan keindahan keteraturan Allah di alam semesta dan keindahan ayat Allah di Kitabullah.

Belajar bersama alam ada 3, bisa alam sebagai lingkungan belajar, bisa alam sebagai media belajar dan bisa alam sebagai obyek belajar.

Pada tahap usia ini umumnya alam sebagai obyek belajar dan menggali pengalaman. Konsepsi bahwa belajar menyenangkan pada usia 0-6 tahun, bergeser menjadi belajar sebagai penyadaran dan penumbuhan potensi inovator melalui karya karya kreatif dan solutif pada alam.

Belajar dan bernalar bukan tentang menguasai banyak pengetahuan, tetapi memperoleh pengetahuan sebagai efek dari bernalar dan berpengalaman di alam secara terus menerus, sebagaimana gambaran seorang Ulil Albab di dalam alQuran, yang memikirkan ciptaan Allah dalam semua keadaan (berdiri, duduk dan berbaring).

Pada tahap ini studi studi kasus real alam sekitarnya baik potensi alam maupaun problematika alam penting dibawa dalam proses pembelajaran agar potensi jiwa seorang innovator tumbuh subur.

Usia 11-14 tahun
� Uji potensi sehingga menjadi eksistensi peran innovator dan beradab kepada alam.

Di tahap ini daya inovasi akan bertemu dengan realita bakatnya dan realitas sosial masyarakatnya. Pengembangan potensi fitrah bakat harus dibarengi dengan kemampuan berinovasi agar peran dalam bidang kehidupan menjadi jauh lebih manfaat dan ramah alam.

Barangkali sering kita lihat karya yang dilahirkan dengan talenta hebat namun tidak inovatif. Ini karena tumbuhnya fitrah bakat tidak dibarengi tumbuhnya fitrah belajar dan bernalar.

Pada tahapan ini Belajar Bersama alam bergeser pada bagaimana Belajar dan Bernalar untuk berinovasi, memakmurkan dan melestarikan bumi serta menyelesaikan realitas sosial masyarakat sekitarnya.

>15 tahun.
� Ekistensi Peran Inovator dan Beradab kepada Alam

Salam Pendidikan Peradaban

- Tips Bunda dan BayiMelatih Kemandirian Anak Itu Penting

September 13, 2017 Add Comment
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK



Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

?Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
?Toilet Training
?Makan sendiri
?Berbicara jika memerlukan sesuatu

??Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
??????????? Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
??????????? Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
???????????Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

?Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
? Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
?Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

??Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
???????????Hargai keinginan anak-anak
???????????Jangan buru-buru memberikan pertolongan
??????????? Terima ketidaksempurnaan
??????????? Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
??????????? Berbagi peran bersama anak
??????????? Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
?Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
?Apabila Kamu memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
?Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

?Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

?Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

??Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
???????????Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
???????????Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
???????????Percayakan manajemen waktu yang sudah dBundaat oleh anak-anak.
???????????Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
?Perbanyak membuat permainan yang dBundaatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
?DBundaatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

?Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1?Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2?Ketrampilan Literasi
3?Mengurus diri sendiri
4?Berkomunikasi
5?Melayani
6?Menghasilkan makanan
7?Perjalanan Mandiri
8?Memakai teknologi
9?Transaksi keuangan
??Berkarya

?3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1?Konsistensi
2?Motivasi
3?Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

?Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1?Rumah harus didesain untuk anak-anak
2?Membuat aturan bersama anak-anak
3?Konsisten dalam melakukan aturan
4?Kenalkan resiko pada anak
5?Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Bunda Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi

- Tips Bunda dan BayiMotorik Kasar dan Halus Pada Anak

September 13, 2017 Add Comment


Motorik Kasar dan Halus Pada Anak
Setiap mama pasti menginginkan keterampilan motorik anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
.
Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh, yang dipengaruhi oleh usia, berat badan dan perkembangan anak secara fisik. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, atau naik turun tangga.
.
Perkembangan motorik ini beriringan dengan proses kematangan fisik anak.
.
Misalnya, anak akan mulai berjalan jika sistem sarafnya sudah matang, proporsi kakinya cukup kuat untuk menopang tubuhnya, dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.
.
Sebaliknya, motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya dan sebagainya.
.
Kemampuan motorik halus setiap anak berbeda-beda, baik dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatnya.
.
Setiap anak bisa mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Anak justru bisa menjadi bosan dan malas mengembangkan kemampuan motorik halusnya jika ia kurang mendapatkan rangsangan. Tapi, bukan berarti Kamu boleh memaksakan satu bentuk stimulasi atau rangsangan pada anak, ya.


Jika ingin lihat seru ya bermain ala ala Montessori Play cekidot ke IG nya Alula ya bun..
Klik disini.. 


Sumber: http://www.parenting.co.id/balita/motorik+kasar+vs+motorik+halus

- Tips Bunda dan BayiTips Stimulasi Rambatan dan Berjalan pada Bayi

Juli 04, 2017 Add Comment
Sharing ini Beliau tulis untuk group Gema Indonesia Menyusui

Judul : stimulasi rambatan dan berjalan
Oleh : Bia Adeeva
Usia : 8-10 bulan


Fase rambatan dan berjalan dimulai dari bayi mampu menopang seluruh badannya menggunakan kaki kemudian berdiri sendiri dg berpegangan

Stimulasi Rambatan
1. Letakkan media rambatan untuk bayi (fence, sofa, box bayi dll)
Pastikan terbuat dari bahan yg ramah bayi
2. Letakkan mainan disamping kiri atau kanan bayi dan pancing bayi untuk meraih mainannya.
Jangan terlalu banyak mainan (stimulasi) agar bayi fokus meraih satu mainan
3. Jika bayi terjatuh, jangan panik, biarkan saja, tanamkan kalimat positif, dan berikan semangat untuk mencoba lagi
4. Tubuh Bunda juga bisa dijadikan media rambatan lho,
Bunda duduk dg kaki ditekuk didepan dada, minta bayi berdiri menggunakan tangan kiri Bunda, tangan kanan memegang mainan/apa saja yg menarik perhatian bayi, minta dia mengambilnya, bayi akan merambat ke lutut Bunda kemudian mencoba mengambil mainan
Cara ini juga akan meningkatkan bonding bayi dg Bunda

Stimulasi Berjalan
1. Gelar playmat yg permukaannya licin (fungsi playmat untuk melindungi bayi ketika terjatuh dan agar benda yg didorong bisa bergeser)
2. Letakkan mainan/meja/kursi tanpa roda atau kardus bekas yg bersih diatas playmat didekat bayi, tinggi mainan tidak lebih tinggi dari bahu bayi
Bayi yg sudah bisa berdiri akan mencoba berdiri berpegangan pada benda disampingnya
3. stimulasi bayi untuk mendorong mainan/benda didepannya dg cara membuat suara didepan bayi
Bayi akan mencoba mendekati Bunda dg cara mendorong mainannya
4. Bagi bayi yang sdh bisa mendorong benda tanpa terjatuh, berikan dia mainan (push walker) atau meja/kursi beroda (playmat tidak diperlukan)
Tetap awasi bayi ya
5. Duduk didepan bayi, ulurkan kedua tangan Bunda ke bayi, minta dia untuk meraihnya, ketika bayi sudah memegang tangan Bunda, tarik tangan Bunda dan bayi keatas, bayi akan mengikuti dg berdiri, kemudian tarik perlahan bayi untuk berjalan kearah Bunda, Bunda bisa bergeser ke belakang agar langkah bayi semakin banyak, ketika sudah mencapai tubuh Bunda, peluk bayi dan ucapkan kalimat positif
6. Titah bayi kapan pun bayi mau dan dimanapun berada, pakai alas kaki ataupun tidak pakai alas kaki, pastikan bayi berjalan diatas material yg aman
7. Bayi yang sudah kuat kakinya dan sdh mahir berjalan dg berpegangan 2 tangan lama2 akan berpegangan hanya dg satu tangan, lakukan stimulasi yg sama dg menggunakan 1 tangan
Setelah cukup kuat
Bayi akan berdiri tanpa berpegangan
Tralaa ini saatnya bayi melangkah tanpa berpegangan
Ketika dia berdiri tanpa pegangan, Bunda duduk didepan anak berjarak kurang lebih 60cm dg memegang mainan kesayangannya, minta bayi untuk meraihnya
Jika bayi sudah bisa melangkahkan kakinya beberapa langkah, Bunda bisa mundur untuk menstimulasi bayi melangkah lebih banyak

Semangat mak ??

- Tips Bunda dan BayiMateri Bunda Sayang: Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif

Juni 30, 2017 Add Comment

Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif


Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ self concept yang nantinya akan menentukan harga diri/ self value dan percaya diri/ self confidence anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi. Kunci dalam komunikasi ialah perasaan. Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi. Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan Verbal Abuse, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang. Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak: ? Melemahkan konsep diri ? Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama ? Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak ? Kemampuan berfikir menjadi rendah ? Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri ? Iri ? Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial. Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. �Action is louder than words� Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita) 1. Jangan bicara tergesa-gesaSiapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu �sempit� atau �sedikit�? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak! 2. Ingat: Setiap pribadi unikHargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain. 3. Kenali diri sendiri dan anakKebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas. Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka. Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan. 4. Pahami perbedaan needs dan wantsSetiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya. 5. Pahami �Masalah Siapa?�Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. 6. Baca bahasa tubuhBahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan. 7. Dengarkan PerasaanKunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, �Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?�, �Adik sedih ya karna mainannya hilang?�. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut. 8. Mendengarkan dengan aktifJadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, �Oooh.. Begitu ya?� �Terus?� �Kamu kesal sekali ya?�. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita. 9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic) Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer: 1?Memerintah, contoh: �Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!� 2?Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, �Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar� 3?Meremehkan, contoh: �Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?� 4?Membandingkan, contoh: �Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau� 5?Memberi cap, contoh:�Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!� 6?Mengancam, contoh: �Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!� 7?Menasehati, contoh: �Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak� Tangan kan kotor banyak kumannya�� 8?Membohongi, contoh: �Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok� 9?MenghBundar, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, �Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi� ??Mengeritik, contoh: �Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!� 1?1?Menyindir, contoh: �Hmmm� Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi� 1?2?Menganalisa, contoh: �Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain�� Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus. 10. Gunakan �Pesan Saya�Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah �pesan saya� atau �i-message� yaitu dengan: �Ayah/Bunda merasa �. (isi perasaan kita) Kalau kamu �. (isi perilaku anak) Karena� (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain� Contoh: �Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga�. �Pesan saya� memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan �pesan kamu�. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, �Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!�. Dalam �pesan kamu�, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak. /Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/ Sumber Informasi: Catatan Seminar Elly Risman, artikelCemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1