Tampilkan postingan dengan label NHW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NHW. Tampilkan semua postingan

- Tips Bunda dan BayiNice Homework 8 :MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Maret 15, 2017 Add Comment

assalamu�alaikum sahabat-sahabat semua. Semoga selalu diberikan kesehatan dan dimudahkan rezeki oleh Allah.
Kali ini saya akan sharing ilmu tentang �misi hidup� yang sangat menarik ketika saya mempelajarinya di program matrikulasi Bunda Profesional Batch3 dan sangat berat makna, karena ini mempengaruhi tujuan Hidup (life purpose) kita. semoga bermanfaat :)

Masih nempel di kepala tentang materi sesi #8 dimana kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Karena perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. 
Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari.
- Be Profesional amd Rezeki will Follows - 

Tagline Bunda Profesional diatas akan selalu mengingatkan kita bahwa   produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima. 

Maka NHW kali ini akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis.

PERTAMA 
a. Kita ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah  di tulis di kuadran SUKA dan BISA (pada saat NHW#7)
saya lampirkan ulang yang kuadran saya.. 



Dan saya ambil "membantu mencarikan solusi dengan berjualan"

mulailah dan jalankan saja yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Kemudian jika sudah menemukan misi hidup tsb apabila kita  menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. 

b. Setelah ketemu satu hal yang Suka dan Bisa..  jawablah pertanyaan �BE  DO HAVE� di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE) 
Leader reseller dan Bunda Profesional
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Membantu para orangtua untuk menghadirkan Home Education dirumahnya Dan share ilmu dan pengalaman tentang Parenting. Kenapa? Karena parenting ini perlu untuk melahirkan generasi jempolan penerus bangsa.
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
anak yg sholeh-sholehah, HOME EDUCATIOM/Perpustakaan di rumah, tim / partner yang solid dan rumah yang NYAMAN. 

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
kemuliaan, ridho Allah, kesehatan keluarga, kelancaran Rezeki, bermnafaat bagi orang lain, habluminallah dan habluminanas
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
Bisnis berjalan dengan lancar dan semakin berkembang.
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Omzet 70 jt/tahun dan memiliki 100 buku bacaan untuk perpustakaan di rumah.

Sekian detail real NHW misi saya yang berbasis pada kemampuan saya. Nah, Berarti sekarang tinggal saya memulai dan berkomitmen untuk �BERUBAH� dari kebiasaan-kebiasaan yang memang harus diubah. 


Salam Bunda Ceria ????

- Tips Bunda dan BayiNice Home Work 1 : Adab Menuntut Ilmu

Maret 09, 2017 Add Comment

.. Bismillahirrahmanirrahim..
Ilmu yang jelas sudah ada hukumnya wajib dipelajari yaitu fardu�ain jelas ilmu agama. Jika kita hidup tanpa agama kita sebagai penerang kehidupan kita disaat gelap, jelas kita akan tersesat.
Jika kita hidup tanpa al-quran sebagai pegangan hidup, jelas kita akan terjatuh-jatuh.
Alhamdulillah walsyukurillah bagi kita yang lahir sudah secara islam. Tinggal kita mendalaminya lagi dan sebisa mungkin ikut menyiarkannya juga baik melalui dakwah atau cara lainnya.
Masuk di usia saya yang sudah seperempat abad ini dan Alhamdulillah saya sudah di dipertemukan dengan teman hidup yaitu suami saya yang amat sangat sayang anak dan istrinya (suatu saat nanti akan saya perkenalkan dia di next posting) dan seorang bidadari kecil yang usianya sudah genap 6 bulan (saya sudah sedikit memperkenalkan Alula di postingan pertama saya).
Sebelum saya masuk ke inti jawaban. Saya ingin bercerita dahulu dan me-review alur skenario hidup saya hingga saat ini. 
Alhamdulillah lagi-lagi saya ucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan, saya diberikan kesempatan untuk sekolah hingga perguruan tinggi. Tentu saja itu bukan semata-mata kerja keras saya sendiri, tetapi juga berkat usaha dan doa kedua orangtua saya. Betapa mereka susah payah demi menyelesaikan pendidikan anaknya hingga S1.
Saya memilih Jurusan Psikologi murni di Universitas Negeri di Bandung, yang kalau saya berangkat kuliah itu hampir miriplah sama perjalanan piknik ke arah lembang sana, hehe.. ketebak ya, yap kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). 
Saat kuliah, saya layaknya mahasiswa lainnya, sempat terbawa euforia semangat dari teman-teman Wirausaha. Saya jadi rajin dan keranjingan ikut semacam seminar, workshop, bazzar ke bazzar dan bermimpi memiliki suatu brand sendiri.
Singkat cerita ketika saya lulus jadi sarjana. Saya yang tadinya ingin fokus di dunia Industri karena sempat bekerja juga di sebuah perusahaan muslim yang namanya sudah sangat harum itu dan ingin kembali berkarir disana. Tetapi kehendak Allah lain lagi, saya malah terjun di dunia pendidikan. Berkat doa mamah yang bisa menebus langit, hhe.. Saya menjadi betah dan nyaman berada di zona keguruan hampir 2 tahun angkatan bekerja disana. Yap, saya sempat menjadi guru BK di sebuah sekolah swasta tingkat pertama. Menarik juga ya dunia pendidikan. Disana saya amat sangat banyak melihat realita permasalahan anak, keluarga, dll. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya ambil hikmahnya.
Lalu setelah itu saya menikah, syukur alhamdulillah setahun kemudian Alulah lahir ke dunia. Dan disitulah saya merasa terlahir kembali, memulai kehidupan yang baru dengan status Bunda. Dan saat itulah dalam setiap mengambil keputusan terpenting di hidup saya hanya untuk Alula.
Ketika saya memutuskan berhenti bekerja, nyirnyiran pun sering terdengar. �sekolah tinggi sampe S1 ujungnya ngurus anak, buang buang uang aja, mau ngurus anak mah sekolah SD juga bisa, sayang banget gelarnya�.
atau �sayang banget jadi guru kan sudah enak�. Yap, menjadi guru itu memang profesi yang bisa fifty:fifty untuk anak dan keluarga, dan juga mengamalkan ilmu saya untuk turut mencerdaskan anak anak bangsa. Tapi sekarang, Alula lebih membutuhkan saya, Bundanya.
Yap, saya diuji dengan banyak nyirnyiran saat saya sedang mengandung si utun itu. Saya coba meyakini diri sendiri, meminta pendapat sana-sini, terutama mereka yang lebih paham tentang bagaimana menjadi Bunda. Mengena sekali ketika ada satu nasehat, jika ingin menitipkan anak mu, titipkanlah pada orang yang minimal setara dengan pendidikan mu. Anak itu titipan, masa kita titipkan lagi ke orang lain. Allah sudah percaya teh Citra bisa menjaga amanah ini, dengan suami yang siap ikhtiar untuk keluarganya dan pastinya dengan ilmu yang sudah teh Citra raih selama perkuliahan sudah  seiizin Allah. Apalagi atuh yang teh Citra cari? teh Citra sekarang sudah menjadi Bunda. Kehidupan itu ada untuk kita menyiapkan bekal di akhirat nanti.
Astagfirulloh, saat itu saya cuman senyum sambil berkata dalam hati,  saya sudah menjadi Bunda sekarang. Saya sudah sempat melihat dan menyelami beberapa kasus tentang mereka anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan didikan dari Bundanya. Maka saya tidak ingin Alula mengalaminya. Betapa masih ada diluar sana yang ingin kuliah hingga tamat sarjana. Maka saya ingin Alula dididik oleh saya sendiri yang pendidikannya insyaallah dasarnya saya sudah pernah mendalaminya. Seluruh ilmu saya untuk Alula.
Tetapi, apa sudah cukupkah ilmu saya? Secara zaman kuliah saya malah lebih rajin berbisnis di banding ngampus. Baiklah, Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Saya sedang browsing-browsing di dunia maya, ketemulah dengan akun IG @Institut Bunda Profesional Bandung. Saya selidiki menarik sekali, lingkungan komunitasnya, programnya, dan visi misinya. Dan dari situlah saya semakin semangat untuk lebih mendalami ILMU Bunda PROFESIONAL dalam universitas kehidupan ini.
Alasan terkuat saya sehingga ingin menekuni ilmu tersebut. Karena satu, Bunda itu merupakan madrasah pertama bagi anaknya, guru pertamanya di dunia. Bangganya saya jika suatu hari nanti sayalah significant person bagi anak-anak saya kelak. Bukankah mendidik anak Wajib? Bukankah mereka dBundaat dengan penuh cinta? Bukankah suami kita pun memilih kita dibanding rBundaan wanita lainnya untuk dijadikan Bunda untuk anak-anaknya. Seperti nasehat orangtua, pendidikan anakmu dimulai saat kau memilih istrimu. Dan bukankah tanggungjawabnya bukan hanya di  dunia tetapi juga di akherat. 
Memang tugas utama orangtua, terutama kita seorang Bunda itu menjamin pendidikan anak.
Serius.. mohon maaf jika saya sedikit menyinggung perasaan Bunda-Bunda di luar sana. Bukan maksud ingin mendoktrin atau membandingkan Bunda Kantoran atau Bunda rumah tangga. Tetapi memang betul, menjadi Bunda rumah tangga sungguhan itu bukan proyek kecil, melainka proyek besar, yap, proyek Akherat. Maka menjadi Bunda yang cerdas, pintar dan profesional itu wajib.
�Ah, untuk apasih Citt ? Cape kali kaya gituan, kan udah cukup sekolah formal saja ada gelarnya. Bisa diuangkan. Kamu kan jadi Bunda saja sudah cape dengan kerjaan rumah tangga, natural sajalah mengalir apa adanya�. Yap, nyirnyiran lagi. Saya tarik nafas, buang, dan senyum. Hmm, bagi saya belajar menjadi Bunda Profesional itu  sepanjang masa, ilmunya harus tetap di upgrade. Tidak akan ada yang sia-sia setiap ilmu yang saya dapatkan semua untuk anak-anak, saat ini ya untuk Alula.
Menjadi Bunda itu harus serba bisa. Bisa menjadi dokter, menjadi ahli gizi, menjadi cheef, menjadi psikolog, menjadi guru, menjadi laundry, badut atau artis sesekali dan menjadi sahabat. Biarkan tangan saya sendiri yang akan membentuk pribadi dan karakternya. Karena itu Alula hanya butuh Bundanya, yaitu saya.
Dan entah suatu saat saya akan meninggalkan mereka. Bangganya saya jika saya bukan hanya bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi, memimpin umat, atau bisa berdakwah keliling dunia 
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.
Lalu dari mana nanti saya belajar ilmu itu? Ada universitasnya kah? Yap, salah satunya dengan mengikuti program Institut Bunda Profesional ini. Dimana dalam setiap minggunya akan ada materi-materi dan tugas pribadi yang wajib dikerjakan. Tugas ini bukan sekedar tugas, tetapi lebih memberikan value di dalamnya. Sebenarnya artikel curhatan panjang ini juga merupakan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada dalam tugas pribadi para calon Bunda profesional NHW1 (Nice Home Work 1).
Strategi kedua, berhubung saya juga anak baru satu (hhe, masih berencana nambah sih) dan masih sangat muda. Maka saya disini tentunya di tempat tinggal saya dengan suami, akan aktif ikut kegiatan yang bernuasa keBundaan, seperti pengajian rutin, koperasi, pkk, dan arisan. Selain menyambung silaturahmi dengan tetangga, saya pun menggali banyak pengalaman positif dari cara mendidik dan pola asuh mereka. Saya sadar belum menjadi Bunda yang pintar dan hebat seperti diluaran sana, saya hanya seorang Bunda yg sedang belajar menjadi yang terbaik untuk anak saya.
Strategi ketiga ya tentunya lebih aktif lagi mencari ilmu di luaran sana dan terus mengembangkan jaringan silaturahmi.
Menuntut ilmu tidaklah mudah, diperlukan sikap yang positif, terbuka (open-minded), konsisten, sabar, dan komitmen. Jika saya ingin menjadi seorang Bunda profesional maka perubahan sikap-sikap penguat itulah yang akan saya perbaiki kedepannya setahap demi setahap.
Mungkin tidak akan ada ujungnya jika kita membahas tentang ilmu menjadi Bunda. Karena..
� Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia �
(MATERI MATRIKULASI 1 : ADAB DULU SEBELUM ILMU) 
Selamat berjuang dan semangat terus menuntut ilmu untuk mencetak pribadi yang kokoh dan mandiri.
Salam, bunda ceria :):)