Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

- Tips Bunda dan BayiKomunikasi Produktif dengan Pasangan #Day9

Juni 15, 2017 Add Comment

Kaidah komprod favorite saya yaitu kaidah 2C, clear & claruify. Kenapa karena karakter suami saya begitu sudah sering saya ceritakan dari hari awal tantangan yah.. Jadi saya mesti menyampaikan kalimat yang jelas (clear) itupun kalau ingin mudah dan cepat dipahami suami. Hehe...

Lalu kedua memberikan kesempatan kepada suami untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

Seperti tadi sepulang suami dari aktivitasnya di luar dan di sela-sela rebahannya. Saya menjebarkan bagaimana tadi kronologi pada saat saya dan Alula di dokter. Bagaimana pemeriksaannya, pengobatannya dan tindak lanjutnya. Karena sudah amat clear penjelasannya, suami hanya bertanya di akhir, "total sabarahaeun?" . hehe


#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

- Tips Bunda dan BayiKomunikasi Produktif dengan Pasangan #Day6 : say no kalimat majemuk

Juni 09, 2017 Add Comment

Sering banget orang terdekat suami saya bilang kalau saya ini cocok pisan sama suami saya. Lah kenapa emang tanya saya. Mereka jawab, Iya soalnya Citra itu tipenya cerewet, Hilman pendiem ga banyak ngomong. Baiklah pada awalnya saya GR, tapi ketika realitanya emang gitu sih. Hehe, saya yang agak sedikit banyak bicara dibanding suami. Cuman saya juga khawatir kalau nanti suami malah ga nyaman dengan gaya cerewet saya ini.

Misalnya nih, seperti tadi pagi saat saya ingin sekali masak di pagi hari. Ayahnya kebetulan sedang lBundar.


�Aa, lagi apa?", tanya saya.
"Nulis alamat sama packing heula", jawab dia.
"ohh iya atuh, Kalau santai mau mandiin Ula ga? Kayanya Ula pengen dimandiin ayahnya", ucap saya.
"oh, nyaa, bereskeun heula ieu", jawab dia.

Nah, disitu saya coba gunakan kalimat produktif menggunakan kalimat tunggal. Perkalimat atau perperintah yah. Ga langsung nyerocos a b c d. Tapi saya biarkan dia jawab dulu sedang apa. Lalu lihat kondisi dia dulu, setelah itu saya bisa meminta bantuannya.

Dan gaya komunikasi seperti ini efektif daripada kita yang terus-terusan bicara alias cerewet. Yang ada bukannya menurut ucapan kita, tapi malah jadi tidak mau mendengarkan. Hehe .


#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

- Tips Bunda dan BayiKomunikasi Produktif dengan Pasangan #Day4 : Dimana ??

Juni 04, 2017 Add Comment



" neng dimana stnk motor tiger ?? Biasa na di dieu ", tanya suami dengan nada yang bikin saya kaget  pas saya lagi buru-burunya masak di saat endure time. Karena Alula ngajak main mulu dari siang.

" iyaa nanti neng cari pas beres masak ", saya jawab dengan nada tenang.

Setelah beres saya langsung ke kamar membantu mencari benda itu. Keliatan banget hehe suami kewalahan, udah biasa sih dia yang suka lupa nyimpen tapi entah lah apakah semua istri seperti ini. Hehe menjadi tumbal pencarian hahaha..

Sampai bedug magrib pun benda itu belum juga di temukan. Oke, kita putuskan untuk berbuka dulu. Setelahnya kita lanjut mencari.

Baiklah daya masih mencoba tenang, tidak banyak berkata-kata, jikapun bicara intonasinya pun menenangkan tidajk ikut naik level, hehe..
Seperti menanyakan, meyakinkan, membantu meruntutkan peristiwa - peristiwa.
Dan yang lebih banyak saya lakukan yaitu bergerak terus mencari, tersenyum, dan tidak tergesa-gesa. Karena saya tau pasti suami lebih melihat attitude atau sikap saya saat itu.

Dan akhirnya ketemu juga benda tersebut di dalam amplop. Dan yakin itu memang bekas dia sendiri yang simpan tapi kelupaan. Hadeuh,, hehe

Biasanya saya kalau menghadapi situasi dan kondisi seperti di atas, saya menggunakan kaidah komunikasi Produktif 7-38-55. Tidak terlalu banyak bicara, ikut merasakan dalam artian empati, dan banyakin actionnya bantuin cari.

Kan biasanya kalau orang lagi kehilangan barang lupa nyimpen dsb suka jadi rada senewen yah, hehe. Tapi saya coba redam dengan tidak ikut-ikutan senewen atau berkata seolah-olah menyalahkan. Karena kalau keduanya seperti itu saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengalah dan bekerja sama. Ya berarti tidak akan ada result-nya.


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#bunsaybatch2

- Tips Bunda dan BayiAliran Rasa - Kenapa Mesti Ikutan di Program Matrikulasi IIP ?

April 04, 2017 Add Comment

assalamu�alaikum wr wb, sahabat-sahabat semua. Semoga selalu diberikan kesehatan dan dimudahkan rezeki oleh Allah.

Banyak yang bertanya, ngapain aja? Rame ga? Belajar apa aja? Bikin apa?
Iya, awalnya saya maju mundur mau daftar. Tapi dari sebelum nikah pun sebenernya sudah ngeceng-ngeceng pengen banget ikutan dan alhamdulillah tahun ini kesampaian untuk mengikuti semua alur programnya. 

Awal ikutan merasa semangat banget, mulai dengan tema pertama yaitu Adab Dulu Sebelum Ilmu. Di awal aja udah berasa berat nih bahasannya, mengajak saya buat berfikir keras, dan berlari. Daripada mikir harga cengek yang naik terus kan buBunda, hehe.
Atau gimana lemesnya pas anak GTM, cara saya buat mengalihkan hal itu sementara yaitu dengan membuka-buka lagi materi matrikulasi dan tentunya mengerjakan Nice Homework. 
Karena rasanya setelah mengerjakan NHW yang super duper gue banget itu, jiwa saya berasa hadir lagi, apa sih haha. But you must try, mom. It's work ??

Meskipun kalau baca judulnya sepintas sih orang juga bakal biasa aja nanggapinnya. Tapi bakalan beda kalau kita memang terjun langsung membaca, mengerjakan dan mengaplikasikannya. You will find your diamond in your self, mom ??

Ok, super salut sama Bunda Septi dan Pa Dodik yang bisa menciptakan kurikulum seperti ini. Its so give me long effects.
Dan kurikulum ini tuh ga akan kita temuin di Sekolah Formal mana pun. Ya, mungkin karena inilah yang namanya Universitas Kehidupan. You must to be profesional, mom ??

Senengnya lagi, disini pun kita punya teman seperjuangan. Ada teteh yang masih single, teteh yang sama seperti saya baru berbuntut satu, atau ada yang lebih dari tiga buntutnya. Jadi disini saya belum seberapa, di banding mereka. Apalahi ketika ada acara kopdar, anaknya ada yang lari-larian dan satunya lagi rewel. Lihat Bundanya tetep kalem sambil nyerap materi sharing. Wow, we are a supermom ??

Jujur, dengan mengikuti ini mindset saya tentang Bunda Rumah Tangga berubah. Saya tidak akan membandingkan diri saya dengan teman-teman yang lain. Tapi saya membandingkan diri saya yang dulu dengan yang sekarang. Itulah proses. Belajar dan terus belajar. Terutama ketika materi Bunda Produktif, mindset lah yang di bentuk terlebih dahulu tentang bagaimana keberkahan dan kemuliaan itu lah yang dicari. Be a gratefull, mom ??

Sekian aliran rasa dari saya, kalau mau nanya-nanya atau sharing bisa kita chit-chat di sosmed saya atau via WA ?? 



Wassalamu'alaikum wr wb, 


Calon Bunda Profesional 

- Tips Bunda dan BayiNice Home Work 1 : Adab Menuntut Ilmu

Maret 09, 2017 Add Comment

.. Bismillahirrahmanirrahim..
Ilmu yang jelas sudah ada hukumnya wajib dipelajari yaitu fardu�ain jelas ilmu agama. Jika kita hidup tanpa agama kita sebagai penerang kehidupan kita disaat gelap, jelas kita akan tersesat.
Jika kita hidup tanpa al-quran sebagai pegangan hidup, jelas kita akan terjatuh-jatuh.
Alhamdulillah walsyukurillah bagi kita yang lahir sudah secara islam. Tinggal kita mendalaminya lagi dan sebisa mungkin ikut menyiarkannya juga baik melalui dakwah atau cara lainnya.
Masuk di usia saya yang sudah seperempat abad ini dan Alhamdulillah saya sudah di dipertemukan dengan teman hidup yaitu suami saya yang amat sangat sayang anak dan istrinya (suatu saat nanti akan saya perkenalkan dia di next posting) dan seorang bidadari kecil yang usianya sudah genap 6 bulan (saya sudah sedikit memperkenalkan Alula di postingan pertama saya).
Sebelum saya masuk ke inti jawaban. Saya ingin bercerita dahulu dan me-review alur skenario hidup saya hingga saat ini. 
Alhamdulillah lagi-lagi saya ucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan, saya diberikan kesempatan untuk sekolah hingga perguruan tinggi. Tentu saja itu bukan semata-mata kerja keras saya sendiri, tetapi juga berkat usaha dan doa kedua orangtua saya. Betapa mereka susah payah demi menyelesaikan pendidikan anaknya hingga S1.
Saya memilih Jurusan Psikologi murni di Universitas Negeri di Bandung, yang kalau saya berangkat kuliah itu hampir miriplah sama perjalanan piknik ke arah lembang sana, hehe.. ketebak ya, yap kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). 
Saat kuliah, saya layaknya mahasiswa lainnya, sempat terbawa euforia semangat dari teman-teman Wirausaha. Saya jadi rajin dan keranjingan ikut semacam seminar, workshop, bazzar ke bazzar dan bermimpi memiliki suatu brand sendiri.
Singkat cerita ketika saya lulus jadi sarjana. Saya yang tadinya ingin fokus di dunia Industri karena sempat bekerja juga di sebuah perusahaan muslim yang namanya sudah sangat harum itu dan ingin kembali berkarir disana. Tetapi kehendak Allah lain lagi, saya malah terjun di dunia pendidikan. Berkat doa mamah yang bisa menebus langit, hhe.. Saya menjadi betah dan nyaman berada di zona keguruan hampir 2 tahun angkatan bekerja disana. Yap, saya sempat menjadi guru BK di sebuah sekolah swasta tingkat pertama. Menarik juga ya dunia pendidikan. Disana saya amat sangat banyak melihat realita permasalahan anak, keluarga, dll. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya ambil hikmahnya.
Lalu setelah itu saya menikah, syukur alhamdulillah setahun kemudian Alulah lahir ke dunia. Dan disitulah saya merasa terlahir kembali, memulai kehidupan yang baru dengan status Bunda. Dan saat itulah dalam setiap mengambil keputusan terpenting di hidup saya hanya untuk Alula.
Ketika saya memutuskan berhenti bekerja, nyirnyiran pun sering terdengar. �sekolah tinggi sampe S1 ujungnya ngurus anak, buang buang uang aja, mau ngurus anak mah sekolah SD juga bisa, sayang banget gelarnya�.
atau �sayang banget jadi guru kan sudah enak�. Yap, menjadi guru itu memang profesi yang bisa fifty:fifty untuk anak dan keluarga, dan juga mengamalkan ilmu saya untuk turut mencerdaskan anak anak bangsa. Tapi sekarang, Alula lebih membutuhkan saya, Bundanya.
Yap, saya diuji dengan banyak nyirnyiran saat saya sedang mengandung si utun itu. Saya coba meyakini diri sendiri, meminta pendapat sana-sini, terutama mereka yang lebih paham tentang bagaimana menjadi Bunda. Mengena sekali ketika ada satu nasehat, jika ingin menitipkan anak mu, titipkanlah pada orang yang minimal setara dengan pendidikan mu. Anak itu titipan, masa kita titipkan lagi ke orang lain. Allah sudah percaya teh Citra bisa menjaga amanah ini, dengan suami yang siap ikhtiar untuk keluarganya dan pastinya dengan ilmu yang sudah teh Citra raih selama perkuliahan sudah  seiizin Allah. Apalagi atuh yang teh Citra cari? teh Citra sekarang sudah menjadi Bunda. Kehidupan itu ada untuk kita menyiapkan bekal di akhirat nanti.
Astagfirulloh, saat itu saya cuman senyum sambil berkata dalam hati,  saya sudah menjadi Bunda sekarang. Saya sudah sempat melihat dan menyelami beberapa kasus tentang mereka anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan didikan dari Bundanya. Maka saya tidak ingin Alula mengalaminya. Betapa masih ada diluar sana yang ingin kuliah hingga tamat sarjana. Maka saya ingin Alula dididik oleh saya sendiri yang pendidikannya insyaallah dasarnya saya sudah pernah mendalaminya. Seluruh ilmu saya untuk Alula.
Tetapi, apa sudah cukupkah ilmu saya? Secara zaman kuliah saya malah lebih rajin berbisnis di banding ngampus. Baiklah, Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Ketika Saya sedang browsing-browsing di dunia maya, ketemulah dengan akun IG @Institut Bunda Profesional Bandung. Saya selidiki menarik sekali, lingkungan komunitasnya, programnya, dan visi misinya. Dan dari situlah saya semakin semangat untuk lebih mendalami ILMU Bunda PROFESIONAL dalam universitas kehidupan ini.
Alasan terkuat saya sehingga ingin menekuni ilmu tersebut. Karena satu, Bunda itu merupakan madrasah pertama bagi anaknya, guru pertamanya di dunia. Bangganya saya jika suatu hari nanti sayalah significant person bagi anak-anak saya kelak. Bukankah mendidik anak Wajib? Bukankah mereka dBundaat dengan penuh cinta? Bukankah suami kita pun memilih kita dibanding rBundaan wanita lainnya untuk dijadikan Bunda untuk anak-anaknya. Seperti nasehat orangtua, pendidikan anakmu dimulai saat kau memilih istrimu. Dan bukankah tanggungjawabnya bukan hanya di  dunia tetapi juga di akherat. 
Memang tugas utama orangtua, terutama kita seorang Bunda itu menjamin pendidikan anak.
Serius.. mohon maaf jika saya sedikit menyinggung perasaan Bunda-Bunda di luar sana. Bukan maksud ingin mendoktrin atau membandingkan Bunda Kantoran atau Bunda rumah tangga. Tetapi memang betul, menjadi Bunda rumah tangga sungguhan itu bukan proyek kecil, melainka proyek besar, yap, proyek Akherat. Maka menjadi Bunda yang cerdas, pintar dan profesional itu wajib.
�Ah, untuk apasih Citt ? Cape kali kaya gituan, kan udah cukup sekolah formal saja ada gelarnya. Bisa diuangkan. Kamu kan jadi Bunda saja sudah cape dengan kerjaan rumah tangga, natural sajalah mengalir apa adanya�. Yap, nyirnyiran lagi. Saya tarik nafas, buang, dan senyum. Hmm, bagi saya belajar menjadi Bunda Profesional itu  sepanjang masa, ilmunya harus tetap di upgrade. Tidak akan ada yang sia-sia setiap ilmu yang saya dapatkan semua untuk anak-anak, saat ini ya untuk Alula.
Menjadi Bunda itu harus serba bisa. Bisa menjadi dokter, menjadi ahli gizi, menjadi cheef, menjadi psikolog, menjadi guru, menjadi laundry, badut atau artis sesekali dan menjadi sahabat. Biarkan tangan saya sendiri yang akan membentuk pribadi dan karakternya. Karena itu Alula hanya butuh Bundanya, yaitu saya.
Dan entah suatu saat saya akan meninggalkan mereka. Bangganya saya jika saya bukan hanya bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi, memimpin umat, atau bisa berdakwah keliling dunia 
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.
Lalu dari mana nanti saya belajar ilmu itu? Ada universitasnya kah? Yap, salah satunya dengan mengikuti program Institut Bunda Profesional ini. Dimana dalam setiap minggunya akan ada materi-materi dan tugas pribadi yang wajib dikerjakan. Tugas ini bukan sekedar tugas, tetapi lebih memberikan value di dalamnya. Sebenarnya artikel curhatan panjang ini juga merupakan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada dalam tugas pribadi para calon Bunda profesional NHW1 (Nice Home Work 1).
Strategi kedua, berhubung saya juga anak baru satu (hhe, masih berencana nambah sih) dan masih sangat muda. Maka saya disini tentunya di tempat tinggal saya dengan suami, akan aktif ikut kegiatan yang bernuasa keBundaan, seperti pengajian rutin, koperasi, pkk, dan arisan. Selain menyambung silaturahmi dengan tetangga, saya pun menggali banyak pengalaman positif dari cara mendidik dan pola asuh mereka. Saya sadar belum menjadi Bunda yang pintar dan hebat seperti diluaran sana, saya hanya seorang Bunda yg sedang belajar menjadi yang terbaik untuk anak saya.
Strategi ketiga ya tentunya lebih aktif lagi mencari ilmu di luaran sana dan terus mengembangkan jaringan silaturahmi.
Menuntut ilmu tidaklah mudah, diperlukan sikap yang positif, terbuka (open-minded), konsisten, sabar, dan komitmen. Jika saya ingin menjadi seorang Bunda profesional maka perubahan sikap-sikap penguat itulah yang akan saya perbaiki kedepannya setahap demi setahap.
Mungkin tidak akan ada ujungnya jika kita membahas tentang ilmu menjadi Bunda. Karena..
� Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia �
(MATERI MATRIKULASI 1 : ADAB DULU SEBELUM ILMU) 
Selamat berjuang dan semangat terus menuntut ilmu untuk mencetak pribadi yang kokoh dan mandiri.
Salam, bunda ceria :):)