Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 10 - Teknis Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun

September 27, 2017 Add Comment


????????????????

*Materi Pokok ??*

*Teknis Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun*

_Ditulis oleh : Ustadz Harry Santosa_

??????????

Menurut bapak Prof Daniel Rosyid, inti berumah tangga hanya 2, mendidik generasi dan membangun kepemimpinan berbasis potensi atau enterpreneurship bersama (berdakwah, berkomunitas, bersosial bisnis etc). Tanpa dua fungsi sejati itu hidup akan kehilangan gairah. Namun, tidak perlu juga menjadi panik dan tergesa-gesa atau membuat pacuan kuda. Ustadz saya, Ustadz Adriano menganjurkan *Optimistic Parenting*. _Esensinya mendidik anak perlu rileks namun konsisten, Ithminan namun istiqomah. Sebagaimana sunnatullah, semua ada waktu dan tahapan._

Saya melihat ada *periode kritis* di usia 8-10. Pada usia 7 tahun sholat mulai diperintah, dan usia 10 tahun boleh dipukul. Apa maknanya? Ada waktu 2-3 tahun, agar anak _berlatih dan membangun kesadaran_ sehingga tidak perlu dipukul karena meninggalkan shalat.

Bagaimana membimbing anak-anak untuk dapat mencapai fitrah-fitrah baiknya dalam fase ini?

_?? Fitrah Keimanan_
_Keteladanan dan Membangun Kesadaran_

Walau kewajiban Syar'i jatuh ketika aqil baligh, latihan dan pembiasaan dengan cara keteladanan dan membangun kesadaran mesti dimulai sejak 7 tahun, dan 10 tahun adalah titik kritis. Bila tahap ini gagal, dengan berbagai alasan misalnya pemaksaan, trauma atau pendidikan tidak berhasil membuat terbangun kesadarannya, maka fase berikutnya akan sulit recovery.

Masa 7/8 - 10 tahun adalah masa transisi awal dari masa egosentris sebagai anak di usia 0-6 tahun, kepada kesadaran awal sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial.

Nah, kembali ke tahap 8-10 tahun. Jika imaji ttg sholat dan ibadah lainnya sudah "negatif" di usia 0-6 tahun, di usia 7 tahun batas untuk memulai kesadaran kembali. Ada waktu 8-10 tahun untuk kembali membangun kesadaran positifnya tentang kebenaran. Jadi jangan sampai dipukul. Seingat saya tidak ada satu hadits pun yang menceritakan Rasulullah SAW pernah memukul anak. Nah, sholat adalah contoh. Ada begitu banyak nilai-nilai kebenaran yang bersemayam dalam fitrah keimanan anak-anak kita yang sebaiknya disadarkan.

_?? Fitrah Belajar_
_Intellectual Curiosity_

Intellectual Curiosity adalah salah satu cara membangkitkan fitrah belajar. Yang paling efektif adalah experiental learning atau project based learning atau biasa disebut menggali hikmah bersama peristiwa sehari-hari, atau dari sejarah atau yg ada di alam semesta.

Tidak ada yang kebetulan dari peristiwa sehari-hari. Beternak kelinci misalnya, bukan hanya fitrah belajarnya yang digali, tetapi fitrah-fitrah lainnya. Misalnya ketika ada kelinci yang wafat, kita bisa menemukan hikmah-hikmah dibalik kematian kelinci dan musibah lalu bagaimana menyikapinya. Bagaimana imaji postif dibangun dari peristiwa itu bukan sebalikanya. Jangan remehkan peristiwa dan imaji di masa anak-anak. Banyak orang dewasa yang bersikap negatif terhadap musibah, menjadi terpuruk, depresi dstnya. Itu karena ada imaji negatif, yang membuat luka persepsi lalu melahirkan pensikapan yang buruk ketika dewasa.

Salah satu yang dapat kita gali dari Siroh Nabawiyah ketika Nabi saw berusia 8-10 tahun adalah melakukan perjalanan jauh berdagang ke Syam bersama Pamannya. Dunia luar membuka cakrawala.... Nabi SAW menyaksikan beragam suku bangsa bertemu di Syam, melihat bagaimana nasib pedangan yang jujur dan pedangang yang curang.

Silahkan dieksplorasi cara-cara untuk INSiDE OUT semua fitrah-fitrah baik yang ada dalam diri anak kita....

_?? Fitrah Bakat_

Fitrah bakat yang dimaksud adalah potensi keunikan terkait personality yang merupakan bawaan lahir. Orang menyebutnya bakat, talent, strength, grit dll.

Setiap bayi adalah unik, dan keunikannya adalah keistimewaannya yang bila dikembangkan akan menjadi peran peradabannya, misi spesifiknya sebagai khalifah. Tidak ada bayi yang lahir tanpa bakat dan keunikan. Inilah sesungguhnya panggilan hidup yang sudah Allah rancang. Nampak pada sifat-sifat dominannya sejak kecil misalnya suka memimpin, suka mengatur, suka guyub, suka meneliti, suka berfikir, suka mengaitkan, suka curigaan atau waspada dll. Maka amatilah, catatlah, fokus dan konsisten menumbuhkannya.

_??Fitrah Perkembangan_

Fitrah ini sangat terkait dengan tahapan usia. Ada cara dan metode yang berbeda untuk tiap tahap usia dan tiap jenis fitrah.

Dasar pemahaman adanya fitrah perkembangan :
- Bahwa segala sesuatu di muka bumi dan di alam semesta memiliki sunnatullah perkembangan terkait waktu dan tahapan. Fitrah adalah ibarat benih, maka punya tahapan merawat dan menumbuhkannya.
- Bahwa fitrah perkembangan punya tahun-tahun perkembangan manusia, yang sepenuhnya mengambil dari tahun-tahun yang disebut dalam alQuran maupun alHadits, yaitu 2,7,10 dan 14-15. Dimana 14-15 adalah batas antara anak dan bukan anak, antara bukan mukalaf dan mukalaf, antara tidak wajib memikul beban syariah dan wajib memikul beban syariah, antara pedagogi dan andragogi
- Bahwa semua tahapan adalah Golden Age dalam pandangan Islam, asal memahami pada tahapan apa, fitrah apa, akan mengalami puncaknya dengan cara bagaimana.

??????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 9 - Konsep Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun

September 27, 2017 Add Comment


??????????????????????

*Materi Pokok* 9?

?? *Konsep Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun* ??

Ditulis oleh : *Ustadz Harry Santosa*
___________________________

Kita akan membahas konsep pendidikan berbasis potensi fitrah dan akhlak, untuk periode pre aqil baligh (usia 8-10 tahun). Tentu tahap 8-10 ini akan lebih mudah kita jalani apabila tahap 0-7, pertumbuhan fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar anak2 kita berkembang secara utuh.

Baik teori psikologi perkembangan anak, maupun perjalanan sirah Nabwiyah, melihat usia 8-10 atau ada juga yg menulis 7-10 merupakan penentu kesiapan tahap latih di usia 11-14 menuju aqil baligh.

Secara syariah, fitrah keimanan, ditandai dengan perintah sholat yg dimulai ketika usia 7 tahun, dan batas penyadarannya sampai di usia 10 tahun. Bila di usia 10 tahun masih belum tumbuh fitrah keimanannya dengan sholat sebagai wujud simbolnya maka boleh dipukul. Fase keimanan Rububiyatullah (kholiqon, roziqon, malikan), bergeser meningkat ke Mulkiyatullah (waliyan dan hakiman). Wujudnya adalah perintah sholat.

Ketika ego sentrisnya terpuaskan di usia 0-6 tahun, maka di usia 7 tahun mulai melebar kepada sosial dan tanggungjawab moral. Maka di saat yang sama, anak2 harus dibangkitkan fitrah keimanannya pada aspek ketaatan pada hukum (hakiman) dan ketaatan/kecintaan tunggal (waliyan).

Secara fitrah perkembangan, usia 7 tahun, anak2 mulai mengenal nilai2 sosial di sekitarnya. Maka mereka mulai mengenal Allah sebagai pembuat hukum dan Zat yang harus ditaati secara totalitas. Di saat yang sama, pada usia 7 tahun, fitrah belajar dan fitrah bakat juga mulai dibangkitkan dengan beragam aktifitas yang menjadi minat dan passionnya. Pada tahap ini perbanyak aktifitas belajar di masyarakat dan aktifitas yang sesuai kepribadiannya. Agar di usia 10 tahun, ketiga fitrah ini (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) sudah matang untuk dilatih secara serius.

Usia 10 adalah batas evaluasi apakah sudah kenal Allah dengan baik (sholat dengan kesadaran) dan kenal diri dengan baik (ku tahu yg ku mau). Para Pelatih FIFA, juga menjadikan usia 10 tahun sebagai batas dari latihan �bermain-main saja walau berbakat� menjadi latihan �teknik dan muscle memory�. Di Jerman penjurusan sekolah dimulai ketika kelas 4 SD, atau sekitar usia 10 tahun.

Rasulullah SAW, mulai magang berdagang bersama pamannya ke Syams sekitar usia 10  atau 11 tahun.

Abu Bakar Ra, mengatakan ada dua hal yang paling utama untuk dikenal, yaitu kenal Allah dan kenal diri. Menurut saya kenal Allah (fitrah keimanan) dan kenal diri (fitrah bakat) sebaiknya sudah selesai di usia 10 tahun.

=====================

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 5 - Parenting On Waiting

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????????

*Materi Pokok 5?*

*PARENTING ON WAITING*

*_(Home Education bagi Orangtua Yang Menanti Buah Hati)_*

Disampaikan oleh : Ustadz Adriano Rusfi

???????????



Tak pelak lagi, memiliki buah hati adalah sebuah harapan besar. Ia adalah bagian dari mimpi besar pernikahan, dan awal dari sebuah cita-cita peradaban. Lengkap sudah, kala sebuah rumah tangga kemudian dihiasi oleh sang penyejuk mata sibiran tulan. Karena ia adalah obat jerih dan pelerai demam. Sebuah kata bijak bahkan berujar bahwa �Orang yang memiliki anak bagaikan orang yang akan hidup selamanya�. Ya, karena melalui anak sebuah mimpi dapat dititipkan, diteruskan dan dilanjutkan, bahkan pada sekian generasi berikutnya. Maka tak heran jika ada begitu besar asa penantian akan kehadirannya, ada sekian banyak uang yang rela dikeluarkan agar ia segera hadir, ada berBunda cemas bersama doa dan airmata agar Sang Khalik menitahkan kehadirannya di dunia.

Namun mungkin banyak yang lupa bahwa sang anak adalah sebuah amanah raksasa, yang kehadirannya telah membuat sebelah kaki kita ada di tubir neraka. Menuntunnya menuju jalan shaleh hari ini adalah sebuah misi nyaris gila, yang hampir-hampir mustahil dijalani di tengah goda maksiat dan kebathilan di mana-mana. Seorang Bunda bahkan putus asa, lalu membunuh anak-anak saat lelapnya, ketika ia gelisah menatap badai gelap di masa depan sana. Karena setiap amanah adalah tanggung jawab, dan sebuah laporan pertanggungjawaban adalah keletihan yang menyiksa di Hari Pengadilan kelak. Maka, tak pelak lagi Allah menyindir manusia yang asyik-masyuk berburu amanah dalam sebuah firmanNya sebagai �amat zalim dan bodoh�. (QS Al-Ahzab : 72).

Tapi apa hendak dikata, bagaimanapun menanti sang buah hati adalah fitrah, bagian dari naluri terdalam relung hati manusia. Tak pernah ada yang salah dari sebuah rindu penantian. Tak ada yang keliru dari sebuah ikhtiar untuk menghadirkan. Terlalu dapat dimengerti akan rasa cemas dan gelisah, ketika tubuh kecil nan lucu itu belum juga hadir dalam hangatnya pelukan. Namun, ketika sebuah rindu, asa dan gelisah terakumulasi berlebihan, maka ia malah kontraproduktif bagi kelahiran sang idaman. Karena cemas akan mengurangi kualitas sperma dan membuat cairan vagina menjadi asam. Itulah sebabnya saya berkata pada pasutri yang telah tujuh tahun menanti : *�Cemaslah secukupnya, dan berharaplah tanpa batas...�*. Lalu, kinipun mereka telah berputra dua.

Sungguh, di luar sana ada rBundaan anak tak berayahbunda. Mereka juga berhajat akan kehangatan dan asuhan, bukan panti asuhan. Seringkali mereka adalah anak-anak kita yang hadir lewat rahim yang lain. Tataplah mata mereka, bukankah mereka sungguh anak-anak kita ? Mereka juga butuh diasuh oleh fitrah keayahbundaan dan oleh parenting dari buku dan seminar. Kelak, andai kita bisa tuntun mereka ke tangga keshalehan, maka doa mereka untuk kita. Ya, bukan satu-dua doa anak shaleh, tapi puluhan doa anak shaleh. Kelak, andai kita bisa didik mereka ke jalan kebenaran, sungguh mereka akan bersama Rasulullah SAW di dalam surga, karena setiap yatim adalah kekasih Beliau  SAW. Lalu, mereka akan berbisik ke telinga Rasulullah SAW tentang syafa�at untuk kita.

Ayahbunda, terkadang sebuah karunia dan amanah butuh penjemputnya. *Penjemputnya adalah ilmu dan tekad untuk memenuhi prasyaratnya.* Jika ayahbunda ingin dikaruniai sebuah mobil, maka belajarlah mengemudi, buatlah SIM dan bangunlah garasi di rumah, walau hari ini belum punya sekeping rodapun. Agar Allah *�membaca�* sebuah tekad, kesungguhan dan harap yang terwujud nyata. Dan, ketika ayahbunda mendamba hadirnya benih peradaban yang ingin disemai di dalam rumah, maka tunjukkanlah padaNya betapa ayahbunda telah begitu siap untuk mendekapnya dan mengasuhnya, lewat kedalaman parenting bagi anak-anak lain. Dan jika Allah ternyata tak jua menghadirkannya, itulah cara Allah Yang Maha Pengasih untuk mengurangi beban hambaNya di akhirat kelak.

???????????
Materi ini adalah edukasi untuk (calon) ayah bunda dimana apa yang dijelaskan dalam materi adalah bahasa ilmiah yang tidak bisa dihindari dalam konteks pembahasan reproduksi manusia.

???????????
_Tim Fasilitator ?atrikulasi#5 HEbAT Community_

- Tips Bunda dan BayiMENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR

September 13, 2017 Add Comment
MENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR



Oleh: ustad Harry Santosa


�Baby born as a Scientist� begitu menurut pakar prof. Gopnick yang selama puluhan tahun bergelut dengan dunia anak. Dia melihat anak punya kecakapan setara seorang filsuf dan berfikir ilmiah layaknya seorang pakar sains.

Dalam sebuah riset, seorang anak 3 tahun diberi tantangan untuk menduga mengapa sebuah kotak dengan cara menumpuk tertentu bisa mengeluarkan cahaya lampu dan mengapa dengan cara yang sama kotak lain tidak mengeluarkan cahaya sama sekali.

Dalam hitungan tidak sampai 3 menit, anak usia 3 tahun sudah dapat mengeluarkan banyak hipotesis.

Dalam riset lain, Sugatra Mitra seorang pakar IT, mendapatkan anak anak desa di india, yang tidak sekolah, mampu �self learning� dan mendapat nilai ekselen setara dengan sekolah terbaik dengan guru terbaik di New Delhi, padahal hanya ditinggalkan 8 bulan bersama komputer yang telah dipasangkan pelajaran �DNA Exchange� dan didampingi seorang gadis perempuan yang memberi semangat di belakang mereka.

Wow, inilah kehebatan fitrah belajar dan bernalar yang Allah SWT telah instal kepada makhluk yang ingin dijadikan Khalifatullah fil Ardh. Perhatikanlah bahwa setiap anak sejak lahir adalah pembelajar sejati, tidak ada anak yang memutuskan merangkak sepanjang hidupnya ketika berkali kali jatuh saat belajar berdiri dan berjalan.

Begitulah Allah telah membekalkan manusia agar mampu memikul tanggungjawabnya untuk merawat dan memakmurkan bumi. Dalam Islam manusia memang dilahirkan �bodoh atau tanpa pengetahuan�, tetapi Allah telah menginstal dalam jiwa mereka keimanan, akhlak dasar yang dapat membedakan perlakuan baik dan buruk, kemampuan dasar interaksi sosial, sifat sifat unik, pola makan dan tidur, seksualitas sebagai lelaki dan perempuan dll yang semuanya itu bukan wilayah pengetahuan yang diajarkan, tetapi terinstal dalam jiwanya. Itulah fitrah.

Jangan salah paham, Fitrah bukan tipe kecerdasan, tetapi potensi potensi dasar manusia untuk dirawat, dikuatkan, disadarkan, dikembangkan dan dikokohkan sehingga kelak menjadi peran peradaban dalam segala bidang dasar kehidupan, baik personal maupun komunal.

Khusus untuk fitrah belajar dan bernalar, jika tumbuh paripurna maka kelak peran peradaban yang diharapkan adalah peran innovator yang menebar rahmat bagi alam semesta.

Lalu mengapa sepanjang masa kita menjalani masa persekolahan? fitrah belajar dan bernalar ini seolah redup. Bahkan banyak diantara kita alergi dengan kata �belajar� apalagi �bernalar�. Persekolahan formal dianggap oleh banyak bakar sebagai �penyebab� anak membenci proses belajar dan bernalar.

Belajar seolah menjadi waktu �pengisian konten pengetahuan� yang mengerikan, daaan�.. bel istirahat, bel pulang serta lBundaran adalah masa paling membahagiakan. Bagi kita kebanyakan, belajar dan bernalar di sekolah sebenarnya adalah pacuan yang tak kemana mana (race to no where).

Lihatlah berapa banyak sarjana yang skripsi dan tesisnya adalah karya satu satunya dan terakhir sepanjang hidupnya?

Ya kita sesungguhnya bukan sedang belajar tetapi menjalani �ilusi belajar�. Seolah seperti orang sBundak �belajar� namun pada kenyataannya hanya sekedar memenuhi syarat kelulusan ujian dan berlomba masuk sekolah favorit atau bekerja di tempat yang mapan.

Bekal fitrah belajar dan bernalar yang seharusnya ditujukan untuk mencapai peran inovasi untuk melestarikan dan memakmurkan bumi, berubah menjadi perlombaan atau pacuan orang buta.

Berapa banyak orang yang menghafal rumus rumus namun tak mampu melahirkan karya inovatif. Berapa banyak orang menghafal alQuran namun tak memiliki gairah untuk Tadabur dan Inovasi yang melahirkan karya genuine. Padahal Ummat hari ini membutuhkan kemampuan Tadabur yang hebat.

________________

Lalu bagaimana mendidik Fitrah Belajar dan Bernalar?

Mendidik fitrah belajar dan bernalar harus berangkat dari *keyakinan bahwa semua anak suka dan bergairah belajar. Karenanya tidak tergiur untuk �too much teaching� atau �over stimulus� apalagi drilling dan menerapkan �reward & punishment�.*

Kita sesungguhnya hanya perlu menyemangati, mendorong gairah dan antusiasnya untuk �ikhlash belajar dan bernalar� melahirkan inovasi baru yang ramah bumi di setiap kesempatan dengan membimbingnya memunculkan banyak idea menantang atau menginspirasi agar anKamu melahirkan gagasan hebat.

Usia 0-6 tahun
� Merawat dan menguatkan konsep belajar melalui imaji dan abstraksi serunya belajar dan bernalar.

Di tahap ini imaji dan abstraksi anak sedang pada puncaknya, sementara aspek koginitifnya belum berkembang. Karenananya belajar dan bernalar di masa ini bukanlah dengan mengenalkan symbol dan cara belajar formal kaku. Maka bermain di masa ini adalah proses belajar yang disukai anak.

Permainannya pun bukan permainan kognitif namun permainan imajinatif, misalnya bermain peran �kuda kudaan�, �dokter dokteran� dstnya.

Permainannya harus �open ended� artinya tidak kaku dan dinamis. Jangan abaikan bermain atau berkegiatan di masa anak, inilah proses belajar dan bernalar terbaik untuk membentuk sikap.

Rasulullah SAW ketika usia 0-6 tahun berada di Bani Sa�diyah, setidaknya ada 7 hal terkait fitrah belajar dan bernalar ini yang Beliau dapatkan:

1. Belajar Bersama Alam (BBA), Lingkungan alam pedesaan yang nyaman untuk belajar dan bergerak serta untuk menguatkan senso motoriknya (muscle memory)

2. Bahasa Bunda (mother tongue) yang fasih dan sempurna

3. Belajar bersama orangtuanya untuk membangun kelekatan (attachment)

4. Belajar Kisah Kisah Kepahlawanan bersastra baik dan Kearifan lokal

5. Belajar Kepemimpinan (Executive Functioning) dengan memelihara hewan

6. Belajar Mendaki Bukit untuk membentuk sikap dan fisiknya

7. Belajar Mengenal dan Mencintai Allah melalui ciptaanNya

Belajar bagi anak usia ini adalah proses bermain imajinasi yang menyenangkan dalam cara pandang mereka, bukan cara pandang orang dewasa. Anak yang sudah cinta belajar akan belajar sepanjang hidupnya.

Karenanya jangan tergesa gesa ingin anak serba bisa pada yang tampak, bukan pada apa yang memberi dampak. Anak yang segera bisa membaca belum tentu suka buku dan suka belajar sepanjang hidupnya.

________________

Usia 7-10 tahun
� Masa menumbuhkan dan menyadarkan potensi fitrah belajar dan bernalar

Di tahap ini fitrah belajar dan bernalar sedang pada puncaknya. Logika dan kritis anak sudah berkembang sangat baik. Anak mulai menyadari adanya aturan, adanya symbol, adanya tanggungajawab dstnya.

Di masa inilah perintah Sholat dianjurkan untuk diperintahkan (disampaikam sebagai perintah) karena aqal sudah tumbuh pesat.

Inilah masa emas bagi fitrah belajar dan bernalar ananda. Maka metode terbaik adalah dengan diinteraksikan atau direlevankan dengan alam. Alam menjadi tempat terbaik, metode Belajar bersama Alam menjadi cara terbaik menumbuhkan fitrah belajar dan bernalar.

Logika anak yang tumbuh hebat bertemu dengan keindahan keteraturan Allah di alam semesta dan keindahan ayat Allah di Kitabullah.

Belajar bersama alam ada 3, bisa alam sebagai lingkungan belajar, bisa alam sebagai media belajar dan bisa alam sebagai obyek belajar.

Pada tahap usia ini umumnya alam sebagai obyek belajar dan menggali pengalaman. Konsepsi bahwa belajar menyenangkan pada usia 0-6 tahun, bergeser menjadi belajar sebagai penyadaran dan penumbuhan potensi inovator melalui karya karya kreatif dan solutif pada alam.

Belajar dan bernalar bukan tentang menguasai banyak pengetahuan, tetapi memperoleh pengetahuan sebagai efek dari bernalar dan berpengalaman di alam secara terus menerus, sebagaimana gambaran seorang Ulil Albab di dalam alQuran, yang memikirkan ciptaan Allah dalam semua keadaan (berdiri, duduk dan berbaring).

Pada tahap ini studi studi kasus real alam sekitarnya baik potensi alam maupaun problematika alam penting dibawa dalam proses pembelajaran agar potensi jiwa seorang innovator tumbuh subur.

Usia 11-14 tahun
� Uji potensi sehingga menjadi eksistensi peran innovator dan beradab kepada alam.

Di tahap ini daya inovasi akan bertemu dengan realita bakatnya dan realitas sosial masyarakatnya. Pengembangan potensi fitrah bakat harus dibarengi dengan kemampuan berinovasi agar peran dalam bidang kehidupan menjadi jauh lebih manfaat dan ramah alam.

Barangkali sering kita lihat karya yang dilahirkan dengan talenta hebat namun tidak inovatif. Ini karena tumbuhnya fitrah bakat tidak dibarengi tumbuhnya fitrah belajar dan bernalar.

Pada tahapan ini Belajar Bersama alam bergeser pada bagaimana Belajar dan Bernalar untuk berinovasi, memakmurkan dan melestarikan bumi serta menyelesaikan realitas sosial masyarakat sekitarnya.

>15 tahun.
� Ekistensi Peran Inovator dan Beradab kepada Alam

Salam Pendidikan Peradaban

- Tips Bunda dan BayiMateri komunikasi Produkti: Komunikasi dengan Pasangan

Juli 03, 2017 Add Comment
*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi Kamu dengan pasangan
yaitu :

*a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)*

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hBundaran, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).


*b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)*
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.


*c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)*
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber�sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

*ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI*

*a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER*
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : �Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?�( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : �ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)


*b. TRANSAKSI SILANG*
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah�pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : �Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?�( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : �Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji� ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

*c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI*
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar�pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter�sembunyi.

Contoh:
Seorang Bunda masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang Bunda melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: �Berapa harga yang tinggi itu?� (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: �Yang itu terlalu mahal bagi Bunda.� Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: �Bunda tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu�. Kemudian sang Bunda merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang Bunda dengan mengatakan bahwa Bunda itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang Bunda lalu berkata: �Yang tinggi itu mau saya beli!�.