- Tips Bunda dan BayiMENDIDIK KEMANDIRIAN EMOSI

September 27, 2017 Add Comment


????????????
Cemilan Rabu 3

??MENDIDIK KEMANDIRIAN EMOSI??

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

??CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK??

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah Bunda hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam Bunda profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/

Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

- Tips Bunda dan BayiCIRI ANAK MANDIRI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN

September 27, 2017 Add Comment
Re

???? Cemilan Rabu #2 ????

CIRI ANAK MANDIRI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN

Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan.

Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini antara lain belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral.

Empat ciri kemandirian anak yang perlu diketahui:
1. Anak dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa.
2. Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang-orang di sekitarnya.
3. Anak mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua.
4. Anak bisa mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.

Lima tahapan perkembangan kemandirian anak yaitu:
1. Anak mampu mengatur kehidupan dan diri anak sendiri, misalnya: makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan diri, dan memakai pakaian sendiri.
2. Anak bisa melaksanakan ide-ide anak sendiri dan menentukan arah permainan.
3. Anak bisa mengurus hal-hal yang ada dalam rumah dan bertanggung jawab terhadap sejumlah pekerjaan domestik, mengatur bagaimana menyenangkan dan menghBundar diri sendiri dalam alur yang diperbolehkan, dan mengelola uang saku sendiri.
4. Anak bisa mengatur diri sendiri di luar rumah, misalnya di sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan segala keperluan kehidupan sosial di luar rumah.
5. Anak mampu untuk mengurus orang lain baik di dalam rumah maupun di luar rumah, misalnya menjaga adiknya ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

Dalam mendidik anak mandiri ini dBundatuhkan kesabaran dan pengetahuan yang cukup.  Jangan lupa bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Oleh karena itu anak tidak boleh dituntut menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

Salam Bunda Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

?? Sumber bacaan :
http://www.al-maghribicendekia.com/2013/09/ciri-anak-mandiri-dan-tahapan

- Tips Bunda dan BayiKemandirian

September 27, 2017 Add Comment


?? *Cemilan Rabu 1*??
12 Juli 2017

*KEMANDIRIAN*

Kemandirian atau bergantung pada diri sendiri adalah konsep yang harus diperhatikan untuk ditanamkan pada jiwa anak.
Banyak anak yang menjadi kurang mandiri pada era sekarang ini. Hal ini nampak jelas dirumah-rumah karena mereka sering kali bergantung pada pembantu. Begitu juga dalam mengerjakan tugas - tugas dan belajar. Sikap tersebut membuat nilai kemandirian pada anak berkurang.
Dengan demikian, pada orangtua dan pendidik harus melatih anak agar belajar percaya diri serta dapat mandiri dalam perkara ibadah dan kehidupan.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu untuk menanamkan nilai kemandirian pada diri anak.

*1.* *_Membiasakan Anak untuk Mengerjakan Urusan Rumah Sendiri_*

Misalnya, merapikan kamar, belajar dan mengerjakan tugas dengan tetap memberikan perhatian untuk membantunya pada saat tertentu.

*2.*  *_Membiasakan  Anak untuk Membeli Sesuatu dari Toko (Warung) dan Memberi Mereka Tugas Kecil_*

Misalnya  memberikan mereka catatan belanja dan membiarkan mereka belanja sendiri, lakukan berkali-kali sampai akhirnya mereka terlatih.

*3.* *_Pemilihan Baju_*

Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bajunya sendiri. Saat tidak cocok kita bisa bertanya dan mengarahkannya saja.

*4.* *_Kemandirian Iman_*

Kemandirian Iman maksudnya adalah kita mengajari anak untuk menjaga ibadahnya sendiri. Ini juga tidak berarti membiarkannya, dan kita tetap harus mengawasi dengan tepat dan dan mengingatkannya  untuk beribadah.

*5.* *_Mengajarinya Perencanaan Sederhana_*

Misal membuat jadwal yang harus anak kerjakan setiap harinya dengan sederhana saja. Hal ini akan membantunya merencanakan aktivitasnya dengan baik, dengan demikian anak bisa belajar cara mengatur waktunya dan menjaganya agar efektif.

*6.* *_Mengambil Manfaat dari Rekreasi dan Perjalanan dalam Menanamkan Konsep  Kemandirian_*

Misal menjadikannya penanggung jawab dalam hal merapikan kamar atau mengelola sejumlah uang. Hal ini akan membantunya mandiri dalam mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu yang dituntut darinya.

*7.* *_Kerjasama_*

Agar dalam kemandirian tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik seperti individualisme, sombong, dan rasa tidak memerlukan orang lain, perlu ditanamkan konsep bekerja sama dengan orang lain dalam bentuk yang baik.

Itulah beberapa cara yang dapat membantu kita menanamkan konsep kemandirian dan bergantung pada diri sendiri di jiwa anak. Jika konsep ini dilakukan dengan baik,  akan lahir generasi positif dengan izin Allah ta'ala.semoga bermanfaat... ??

Salam Bunda Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber
Dr.  Yaser Nashr, _Mencetak Anak Berkarakter Positif, Unggul, Kreatif dan Berakhlak Mulia_

- Tips Bunda dan BayiBagaimana Cara Mendidik dan Mendampingi Anak Laki-laki

September 27, 2017 Add Comment


??? *Hatiku di Rumahku..* ???

_Beberapa kisah mendampingi anak laki�laki_

By : Veyda Ferzal



 ?Jaman dulu, banyak orang tua mewajibkan semua anak2nya kumpul ketika makan malam, karena itulah ruang-penyatuan yang sangat bagus. Berkomunikasi, becanda, nasehat, curhat, segala perasaan menyatu dan menjadi perekat keluarga.

 ??Makan malam bersama menjadi  �menu utama� nya, bukan makanannya. Sarana menyatukan hati.

?Menjadikan rumah sebagai dalam bayang-bayang surga.  Seperti perjalanan menuju gunung. Dalam perjalanan perlahan terasa sejuk dan muncul pemandangan indah membelai mata. Seperti itulah  rumah didalam perjalanan menuju surga dalam bayang-bayang Surga, insyaAllah.

??�Hatiku di Rumahku� ??adalah kisah hari ini.. bagaimana mengajak anak laki2 menempatkan hatinya di rumahnya. Agar kelak mereka menjadi perancang dan pewujud rumah bayang-bayang Surga ala mereka.

?? rumahku surgaku. Menyalakan kesejatiannya dari rumah ditemani ayah dan bunda.

??. MENEMANI.
Anak  laki2 sangat senang ketika Bundanya menemani, jika bisa hadir tanpa cerewet ?? kemana saja mereka berkegiatan.
Rasa �nyaman� itu biasanya yang mereka butuhkan. Dengan menemani, akan menguatkan komunikasi unik antara Bunda dan anak  lanjutan dari masa kecilnya. Dahsyatnya kebersamaan yang bisa menjadi kunci hati Bunda dan anak.
#berani menjelajah bersama anak.

????BERSAHABAT.
Menjadi sobat  itu asyik juga, jadilah sobat yang baik dengan anak sesuai umurnya.  Menyelami kesukaannya. Menghargai kesukaannya dan ikut bahagia bersamanya.Sejatinya seorang teman, tak akan pernah menyakiti hati.
Kita akan banyak menyerap, melihat dari balik matanya.
#berani main sama anak.

??KOMUNIHATI
Komunikasi penuh cinta. Tambah kecakapan mendengar. Tundukkan keinginan  mendominasi. Anak nyaman curhat sama Bundanya itu sudah bagus banget. Ada rasa percaya, komitmen, saling, dan kerjasama. Bukan hanya isinya perintah2 dan nasehat2 saja
#berani mendengar anak

????PENDENGAR PEMBANGKIT
Bukan hanya kebutuhan anak laki-laki saja, tapi semua manusia sangat butuh didengarkan.
pendengar itu ada tiga:
1.pendengar-penunggu. 2.pendengar-pengelana.
3.pendengar-pembangkit Pendengar penunggu hobi memotong pembicaraan (pingin didengar)
Pendengar  pengelana tidak menyimak, pikiran mengelana entah kemana.
Jadi sang Bunda harus menjadi  pendengar-pembangkit yang menyimak penuh perhatian bagi anak laki�lakinya. Walau dunia dan fisik nya beda.. tetap rasa nyaman di dengarkan� kebutuhan penting sang anak. Kasih kesempatan anak bicara, dan katakanlah � �Bunda dengarkan kok..� atau.. � tenang aja Bunda seneng deh kalo kamu udah cerita sama Bunda��

??AHLI MENURUNKAN EKSPEKTASI
Kadang banyak ekspektasi dan harapan2 kita sebagai Bunda kepada anak laki2nya, tapi ternyata semua itu berpotensi menghalangi kita melihat potensi/kekuatannya. Turunkan ekspektasi juga memudahkan kita Bernegosiasi  dalam banyak hal dengan anak laki-laki tercinta. Jalan kerjasama indah Bunda dan anak.
#berani menerima

??RUMAHATI
Bagaimana menciptakan suasana yang benar2 nyaman buat anak laki di rumah. Bahwa rumah adalah lembah ekspresi dan panggung apresiasi. Dengan memuliakan dan membahagiakan keberadaan anak di rumah adalah intinya.

??PENELISIK POTENSI
Fokus pada kelebihan2 anak dan potensinya.
Karakter anak laki2 adalah cerminan Bundanya. Cara mendidik kita akan tertular bahkan di copy sama anak  laki � laki. Karena kita lah yang paling banyak waktunya dengan mereka. Jadi sebaiknya, sang Bunda banyak memakai kekuatan otaknya atau logical thinking nya buat anak laki2 dengan banyak memfokuskan kelebihan2 pada anak laki2. Hindari banyak melibatkan perasaan dengan mengungkapkan kesalahan2 dan kekhawatiran2 model Bunda.
#berani mengapresiasi total

??Anak Bukan Milik Kita
Anak tetap milik Allahswt, ketika lahir di dunia.. kita lah sang Bunda yang menjadi media terbaik untuk menjadi guru bahkan fasilitator anak. Dan masing2 anak punya kurikulum hidup nya sendiri. Tak selamanya Bunda bisa mendampingi seumur hidupnya. Maka ketika anak melakukan kesalahan bahkan dosa.. mereka sudah ada jalan nya. Biarkan mereka menemukan kesalahanya sendiri dan membenarkan dirinya.

????Percaya dan nikmati proses
Percayakan pada anak laki-laki atas sikapnya yang diambil. Karena otak nya terus berkembang, kadang belum bisa memperhitungkan perbuatanya dengan akibatnya. Karena semua dalah proses yang sangat indah�Kadang2 kepercayaan anak terkikis ketika Bunda yang terlalu protect
Kita percayakan saja� dengan banyak ber doa

??Melibatkan Allahswt  100% dalam mendidik anak..
Setiap anak unik, setiap Bunda unik, setiap keluarga unik.
Ini kisah saya??.
Kita tunggu kisah keren bunda..

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 10 - Teknis Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun

September 27, 2017 Add Comment


????????????????

*Materi Pokok ??*

*Teknis Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun*

_Ditulis oleh : Ustadz Harry Santosa_

??????????

Menurut bapak Prof Daniel Rosyid, inti berumah tangga hanya 2, mendidik generasi dan membangun kepemimpinan berbasis potensi atau enterpreneurship bersama (berdakwah, berkomunitas, bersosial bisnis etc). Tanpa dua fungsi sejati itu hidup akan kehilangan gairah. Namun, tidak perlu juga menjadi panik dan tergesa-gesa atau membuat pacuan kuda. Ustadz saya, Ustadz Adriano menganjurkan *Optimistic Parenting*. _Esensinya mendidik anak perlu rileks namun konsisten, Ithminan namun istiqomah. Sebagaimana sunnatullah, semua ada waktu dan tahapan._

Saya melihat ada *periode kritis* di usia 8-10. Pada usia 7 tahun sholat mulai diperintah, dan usia 10 tahun boleh dipukul. Apa maknanya? Ada waktu 2-3 tahun, agar anak _berlatih dan membangun kesadaran_ sehingga tidak perlu dipukul karena meninggalkan shalat.

Bagaimana membimbing anak-anak untuk dapat mencapai fitrah-fitrah baiknya dalam fase ini?

_?? Fitrah Keimanan_
_Keteladanan dan Membangun Kesadaran_

Walau kewajiban Syar'i jatuh ketika aqil baligh, latihan dan pembiasaan dengan cara keteladanan dan membangun kesadaran mesti dimulai sejak 7 tahun, dan 10 tahun adalah titik kritis. Bila tahap ini gagal, dengan berbagai alasan misalnya pemaksaan, trauma atau pendidikan tidak berhasil membuat terbangun kesadarannya, maka fase berikutnya akan sulit recovery.

Masa 7/8 - 10 tahun adalah masa transisi awal dari masa egosentris sebagai anak di usia 0-6 tahun, kepada kesadaran awal sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial.

Nah, kembali ke tahap 8-10 tahun. Jika imaji ttg sholat dan ibadah lainnya sudah "negatif" di usia 0-6 tahun, di usia 7 tahun batas untuk memulai kesadaran kembali. Ada waktu 8-10 tahun untuk kembali membangun kesadaran positifnya tentang kebenaran. Jadi jangan sampai dipukul. Seingat saya tidak ada satu hadits pun yang menceritakan Rasulullah SAW pernah memukul anak. Nah, sholat adalah contoh. Ada begitu banyak nilai-nilai kebenaran yang bersemayam dalam fitrah keimanan anak-anak kita yang sebaiknya disadarkan.

_?? Fitrah Belajar_
_Intellectual Curiosity_

Intellectual Curiosity adalah salah satu cara membangkitkan fitrah belajar. Yang paling efektif adalah experiental learning atau project based learning atau biasa disebut menggali hikmah bersama peristiwa sehari-hari, atau dari sejarah atau yg ada di alam semesta.

Tidak ada yang kebetulan dari peristiwa sehari-hari. Beternak kelinci misalnya, bukan hanya fitrah belajarnya yang digali, tetapi fitrah-fitrah lainnya. Misalnya ketika ada kelinci yang wafat, kita bisa menemukan hikmah-hikmah dibalik kematian kelinci dan musibah lalu bagaimana menyikapinya. Bagaimana imaji postif dibangun dari peristiwa itu bukan sebalikanya. Jangan remehkan peristiwa dan imaji di masa anak-anak. Banyak orang dewasa yang bersikap negatif terhadap musibah, menjadi terpuruk, depresi dstnya. Itu karena ada imaji negatif, yang membuat luka persepsi lalu melahirkan pensikapan yang buruk ketika dewasa.

Salah satu yang dapat kita gali dari Siroh Nabawiyah ketika Nabi saw berusia 8-10 tahun adalah melakukan perjalanan jauh berdagang ke Syam bersama Pamannya. Dunia luar membuka cakrawala.... Nabi SAW menyaksikan beragam suku bangsa bertemu di Syam, melihat bagaimana nasib pedangan yang jujur dan pedangang yang curang.

Silahkan dieksplorasi cara-cara untuk INSiDE OUT semua fitrah-fitrah baik yang ada dalam diri anak kita....

_?? Fitrah Bakat_

Fitrah bakat yang dimaksud adalah potensi keunikan terkait personality yang merupakan bawaan lahir. Orang menyebutnya bakat, talent, strength, grit dll.

Setiap bayi adalah unik, dan keunikannya adalah keistimewaannya yang bila dikembangkan akan menjadi peran peradabannya, misi spesifiknya sebagai khalifah. Tidak ada bayi yang lahir tanpa bakat dan keunikan. Inilah sesungguhnya panggilan hidup yang sudah Allah rancang. Nampak pada sifat-sifat dominannya sejak kecil misalnya suka memimpin, suka mengatur, suka guyub, suka meneliti, suka berfikir, suka mengaitkan, suka curigaan atau waspada dll. Maka amatilah, catatlah, fokus dan konsisten menumbuhkannya.

_??Fitrah Perkembangan_

Fitrah ini sangat terkait dengan tahapan usia. Ada cara dan metode yang berbeda untuk tiap tahap usia dan tiap jenis fitrah.

Dasar pemahaman adanya fitrah perkembangan :
- Bahwa segala sesuatu di muka bumi dan di alam semesta memiliki sunnatullah perkembangan terkait waktu dan tahapan. Fitrah adalah ibarat benih, maka punya tahapan merawat dan menumbuhkannya.
- Bahwa fitrah perkembangan punya tahun-tahun perkembangan manusia, yang sepenuhnya mengambil dari tahun-tahun yang disebut dalam alQuran maupun alHadits, yaitu 2,7,10 dan 14-15. Dimana 14-15 adalah batas antara anak dan bukan anak, antara bukan mukalaf dan mukalaf, antara tidak wajib memikul beban syariah dan wajib memikul beban syariah, antara pedagogi dan andragogi
- Bahwa semua tahapan adalah Golden Age dalam pandangan Islam, asal memahami pada tahapan apa, fitrah apa, akan mengalami puncaknya dengan cara bagaimana.

??????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 9 - Konsep Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun

September 27, 2017 Add Comment


??????????????????????

*Materi Pokok* 9?

?? *Konsep Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun* ??

Ditulis oleh : *Ustadz Harry Santosa*
___________________________

Kita akan membahas konsep pendidikan berbasis potensi fitrah dan akhlak, untuk periode pre aqil baligh (usia 8-10 tahun). Tentu tahap 8-10 ini akan lebih mudah kita jalani apabila tahap 0-7, pertumbuhan fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar anak2 kita berkembang secara utuh.

Baik teori psikologi perkembangan anak, maupun perjalanan sirah Nabwiyah, melihat usia 8-10 atau ada juga yg menulis 7-10 merupakan penentu kesiapan tahap latih di usia 11-14 menuju aqil baligh.

Secara syariah, fitrah keimanan, ditandai dengan perintah sholat yg dimulai ketika usia 7 tahun, dan batas penyadarannya sampai di usia 10 tahun. Bila di usia 10 tahun masih belum tumbuh fitrah keimanannya dengan sholat sebagai wujud simbolnya maka boleh dipukul. Fase keimanan Rububiyatullah (kholiqon, roziqon, malikan), bergeser meningkat ke Mulkiyatullah (waliyan dan hakiman). Wujudnya adalah perintah sholat.

Ketika ego sentrisnya terpuaskan di usia 0-6 tahun, maka di usia 7 tahun mulai melebar kepada sosial dan tanggungjawab moral. Maka di saat yang sama, anak2 harus dibangkitkan fitrah keimanannya pada aspek ketaatan pada hukum (hakiman) dan ketaatan/kecintaan tunggal (waliyan).

Secara fitrah perkembangan, usia 7 tahun, anak2 mulai mengenal nilai2 sosial di sekitarnya. Maka mereka mulai mengenal Allah sebagai pembuat hukum dan Zat yang harus ditaati secara totalitas. Di saat yang sama, pada usia 7 tahun, fitrah belajar dan fitrah bakat juga mulai dibangkitkan dengan beragam aktifitas yang menjadi minat dan passionnya. Pada tahap ini perbanyak aktifitas belajar di masyarakat dan aktifitas yang sesuai kepribadiannya. Agar di usia 10 tahun, ketiga fitrah ini (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) sudah matang untuk dilatih secara serius.

Usia 10 adalah batas evaluasi apakah sudah kenal Allah dengan baik (sholat dengan kesadaran) dan kenal diri dengan baik (ku tahu yg ku mau). Para Pelatih FIFA, juga menjadikan usia 10 tahun sebagai batas dari latihan �bermain-main saja walau berbakat� menjadi latihan �teknik dan muscle memory�. Di Jerman penjurusan sekolah dimulai ketika kelas 4 SD, atau sekitar usia 10 tahun.

Rasulullah SAW, mulai magang berdagang bersama pamannya ke Syams sekitar usia 10  atau 11 tahun.

Abu Bakar Ra, mengatakan ada dua hal yang paling utama untuk dikenal, yaitu kenal Allah dan kenal diri. Menurut saya kenal Allah (fitrah keimanan) dan kenal diri (fitrah bakat) sebaiknya sudah selesai di usia 10 tahun.

=====================

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 8 - Teknik Pendidikan Pre Aqil Baligh 0-7thn

September 17, 2017 Add Comment
??????????????????????

*Materi Pokok* 8?

*Teknik Pendidikan Pre Aqil Baligh 0-7thn*

_Ditulis oleh: Bunda Septi Peni Wulandani_



????????????

Pada anak usia 0-7 tahun, anak dBundaat kaya wawasan. Memperkaya wawasan berbeda dengan menjejalkan (outside in).

Memperkaya wawasan dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah adalah dengan keyakinan bahwa tiap anak sudah memiliki fitrah belajar, konsep-konsep dasar berpikir, sehingga mampu menalar. Tugas kita sebagai orang tua adalah menyadarkan anak-anak dengan menginspirasi, menunjukkan, mengencourage dstnya, sehingga mereka akan belajar dengan sendirinya. Istilahnya kerennya, �dont too much teaching, but more learning�.

??Usia 0-2 tahun adalah masa anak-anak mengikat bonding fisik dan psikis dengan kedua orangtuanya, terutama Bunda yang menyusui. Kita boleh menganggap anak-anak sebagai seorang bayi "hanya" di usia ini (0-2 tahun). Mengapa ditekankan "hanya" karena banyak diantara kita memperlakukan anak-anak di bawah 5 tahun (balita) sebagai bayi, contohnya : semua serba dibantu.

Usia 0-2 tahun hak anak adalah mendapatkan makanan terbaik untuk fisiknya yaitu ASI, maka penuhilah secara tuntas. Sambil menyusui selalu masukkan harapan Kamu dari lubuk hati yang terdalam.

Ayah jangan lewatkan moment ini, ikutlah berpartisipasi aktif bermain dengan anak-anak usia 0-2 tahun. Berikan sentuhan kasih sayang ke anak, ajaklah mereka bicara menjelang tidur, tanamkan value keluarga Kamu kepada anak-anak sedini mungkin.

??Memasuki usia 2-7 tahun (thufulah) saatnya kita menanamkan ketauhidan dengan sangat kuat. Di usia inilah (2-7th) anak-anak sedang membangun pola, maka jangan sampai salah. Berikan teladan yang benar. Hati-hati jangan sampai anak-anak gagap value di usia ini. Antara apa yang Kamu katakan dengan apa yang mereka lihat. Apabila anak-anak usia 2-7 th melakukan kesalahan, tidak bisa kita biarkan, harus segera dibetulkan saat itu juga, karena itu masa pembentukan pola. Di usia ini orang tua harus tegas, karena itu masa pembentukan, semakin bertambah usia makin longgar.

??Panduan teknis untuk mengembangkan fitrah anak di usia 0-7 tahun yaitu:

a. Fitrah Keimanan : mulailah mengenal Allah s.w.t dan menikmati segala kebesarannya

b. Fitrah Belajar : kuatkanlah bahasa Bunda anak-anak serta explored isi alam ini dengan kegiatan bermain bersama di alam

c. Fitrah Bakat : tour de talent, gunakan waktu Kamu untuk melihat segala macam bakat yg diberikan Allah ke setiap orang, sehingga fitur unik ini digunakan untuk menjalankan misi hidupnya. Explore bakat anak.

Salah satu contoh dengan mengajak anak untuk melihat keanekaragaman bakat/profesi yang ada di muka bumi ini, agar mereka kaya wawasan, sehingga kaya akan mimpinya untuk masa depan

d. Fitrah Perkembangan: Gunakanlah pola rasul dlm menguatkan fisik anak, mulai pola makan, pola tidur, pola OR dll

????????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 7 - Konsep Pendidikan Pra Aqil Baligh 0-7 tahun

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????

*Materi Pokok* 7?

*Konsep Pendidikan Pra Aqil Baligh 0-7 tahun*

_Ditulis oleh: Ust. Harry Santosa_




Ayah bunda, esensi pendidikan sejati adalah pendidikan berbasis fitrah. Tugas kita adalah menemani anak-anak kita menjaga fitrahnya, menyadari fitrahnya lalu membangkitkannya menjadi peran-peran sesuai fitrah yg Allah kehendaki itu. Inilah esensi pendidikan berbasis potensi dan akhlak. Dengan fitrah Allah itulah Allah menciptakan manusia. Tiada yg berubah dari ciptaan Allah swt.

Fitrah itu setidaknya meliputi fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan.

Topik saat ini adalah pendidikan utk usia 0-7 tahun, tentu saja pendidikan fitrah-fitrah yg ada juga harus melihat fitrah perkembangan. Tiap tahap memiliki sunnatullahnya sendiri, memiliki cara dan tujuan mendidik yg khusus.

_Pendidik sejati adalah seperti petani sejati._ Pendidikan ibarat taman bukan pabrik atau perkebunan. Para petani harus memahami tahapan menanam, dia mesti memperlakukan tiap anak-anaknya bagai bunga-bunga di taman, yg masing-masing memiliki kekhasan, keunikan dan keindahannya. *Maka cara memperlakukan setiap bunga adalah khas, tidak bisa seragam.* Petani sejati _harus rileks dan konsisten_, dia tdk boleh bernafsu menggegas dan menyeragamkan demi produktifitas dan kepentingan siapapun yang tidak relevan dengan tanamannya. Petani sejati tidak boleh sembarang memakai bahan kimia yang menggegas pertumbuhan tanaman, yang malah merusak tanaman itu sendiri. Petani sejati harus meyakini qodrat Allah swt terhadap segala sesuatu yang ada pada tanamannya dan yang ada di sekitarnya.

Dasar panduan kita adalah jelas, bahwa tiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tugas kita bukan merubahnya, merekayasanya, menuntutnya sesuai obsesi kita tetapi _menemaninya._

Imaji-imaji positif yg baik akan melahirkan persepsi positif, dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan yg baik ketika mereka dewasa kelak. Imaji-imaji negatif akan memunculkan luka persepsi, dan luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk ketika mereka dewasa kelak.

Seorang pendidik yang arif mengatakan bahwa kesan baik sehari saja ketika anak-anak, akan menyelamatkan banyak hari ketika mereka dewasa kelak. Aqidah atau fitrah keimanan perlu dan sebaiknya ditumbuhkan dengan pola-pola seperti ini. Silahkan berkreasi.

Fitrah belajar juga demikian. Setiap anak yang lahir adalah pembelajar tangguh, para ilmuwan menyebut bayi yang lahir adalah scientist. Itu krn Allah telah mengkaruniai fitrah belajar ini pada setiap anak. Tidak ada bayi yang memutuskan untuk merangkak seumur hidupnya, ketika mereka belajar berjalan dan jatuh berkali-kali.

Fitrah keimanan pada usia 0-7 tahun, disadarkan dengan membangun imaji-imaji positif, inspirasi kisah, bacaan bersastra baik, bahasa Bunda yg sempurna, banyak bermain di alam terbuka. Rasulullah saw ketika kecil hidup di gurun, mendaki bukit, menggembala kambing, bertutur fasih dari bahasa Bunda yg murni, mengenal akhlak-akhlak dan tradisi baik warga desa. Bagi anak-anak imaji positif penting, karenanya melarang perbuatan keras yg merusak imaji-imaji ini. Rasulullah saw membiarkan Hasan dan Husein bermain kuda-kudaan ketika beliau Sholat, membiarkan Aisyah kecil bermain boneka dan kain bergambar dstnya. Ini semata-mata untuk melahirkan imaji-imaji positif, atau kesan baik tentang Allah, tentang ibadah, tentang dirinya, tentang orangtua (yang sementara menjadi standar kebaikan dan keburukan sebelum mereka mengenal Rabbnya dan syariah-Nya), tentang alam, tentang masyarakatnya.

Tugas kita, para ortu sekali lagi, hanyalah menemani mereka, memberi semangat, menunjukkan hal-hal yg baik, memfasilitasi, lalu rileks dan konsisten, tenang dan istiqomah, sabar dan syukur.

Bunda Septi memberi tips utk membangkitkan kesadaran fitrah belajar ini dengan istilah intelectual curiosity, dsbnya

Penelitian-modern menjelaskan bahwa anak-anak akan bisa belajar mandiri hanya dengan diberi "jalan" saja, tidak perlu dijejalkan, tdk perlu banyak formalitas yang bahkan mengekang kebebasan, kemerdekaan memilih dan curiositynya. Ada ahli parenting yang bilang bahwa anak-anak kita lebih pandai menjawab, daripada pandai bertanya.

======================

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 6 - Teknik Memulai Home Education

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????????

*Materi Pokok 6?*

*??Teknik Memulai Home Education??*

_Ditulis oleh : Bunda Septi Peni Wulandani_




???????????

Sebelumnya kita pahami dulu _HE adalah kewajiban syar'i kita sebagai orangtua._ Bahkan menurut saya justru jadi ilmu wajib bagi para calon Bunda dan calon bapak. Home Education itu dimulai dari satu pemahaman para fasilitator utamanya yaitu kita sebagai orangtuanya.

??Maka mulailah :

a) Berdiskusi secara rutin antara Kamu dan pasangan tentang konsep HE. Tentukan jadwal khusus untuk Kamu bersungguh-sungguh membahas hal ini.

b) Seringlah belajar bersama dengan pasangan kita tentang HE, baik dengan silaturahim, ikut seminar, bedah buku dll kemudian segera tentukan apa hal-hal baik yang bisa segera kita terapkan di keluarga kita.

c) Berpeganglah teguh pada Al Quran dan Hadist sebagai acuan utama kita mendidik anak. Yang lain hanya jadikan referensi, jangan justru membuat Kamu bingung.

d) Belajarlah melihat potensi unik anak-anak kita, kemudian perkuat sisi keunikan tersebut, ingat anak kita adalah "limited edition" hanya kita yang paham, jangan pasrahkan ke orang lain.

e) Mulailah merancang kegiatan sederhana untuk anak2 kita.

f) Perkuat bonding Kamu bersama anak2 di usia 0-7 th ini. Perkuat dengan bahasa Bunda dan bermain bersama alam. Jadi sebaiknya jangan terlalu dini memasukkan anak ke lembaga yang bernama "sekolah".

g) Ketika sudah memasuki usia sekolah perkaya wawasan anak dengan berbagai konsep pendidikan. *Ingat* "sekolah" itu hanya bagian pilihan dari pendidikan, bukan satu-satunya.

h) Konsep utama HE adalah Iqra' dan thalabul 'ilmi. Jadi urusannya adalah belajar atau tidak belajar bukan sekolah atau tidak sekolah.

???????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 5 - Parenting On Waiting

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????????

*Materi Pokok 5?*

*PARENTING ON WAITING*

*_(Home Education bagi Orangtua Yang Menanti Buah Hati)_*

Disampaikan oleh : Ustadz Adriano Rusfi

???????????



Tak pelak lagi, memiliki buah hati adalah sebuah harapan besar. Ia adalah bagian dari mimpi besar pernikahan, dan awal dari sebuah cita-cita peradaban. Lengkap sudah, kala sebuah rumah tangga kemudian dihiasi oleh sang penyejuk mata sibiran tulan. Karena ia adalah obat jerih dan pelerai demam. Sebuah kata bijak bahkan berujar bahwa �Orang yang memiliki anak bagaikan orang yang akan hidup selamanya�. Ya, karena melalui anak sebuah mimpi dapat dititipkan, diteruskan dan dilanjutkan, bahkan pada sekian generasi berikutnya. Maka tak heran jika ada begitu besar asa penantian akan kehadirannya, ada sekian banyak uang yang rela dikeluarkan agar ia segera hadir, ada berBunda cemas bersama doa dan airmata agar Sang Khalik menitahkan kehadirannya di dunia.

Namun mungkin banyak yang lupa bahwa sang anak adalah sebuah amanah raksasa, yang kehadirannya telah membuat sebelah kaki kita ada di tubir neraka. Menuntunnya menuju jalan shaleh hari ini adalah sebuah misi nyaris gila, yang hampir-hampir mustahil dijalani di tengah goda maksiat dan kebathilan di mana-mana. Seorang Bunda bahkan putus asa, lalu membunuh anak-anak saat lelapnya, ketika ia gelisah menatap badai gelap di masa depan sana. Karena setiap amanah adalah tanggung jawab, dan sebuah laporan pertanggungjawaban adalah keletihan yang menyiksa di Hari Pengadilan kelak. Maka, tak pelak lagi Allah menyindir manusia yang asyik-masyuk berburu amanah dalam sebuah firmanNya sebagai �amat zalim dan bodoh�. (QS Al-Ahzab : 72).

Tapi apa hendak dikata, bagaimanapun menanti sang buah hati adalah fitrah, bagian dari naluri terdalam relung hati manusia. Tak pernah ada yang salah dari sebuah rindu penantian. Tak ada yang keliru dari sebuah ikhtiar untuk menghadirkan. Terlalu dapat dimengerti akan rasa cemas dan gelisah, ketika tubuh kecil nan lucu itu belum juga hadir dalam hangatnya pelukan. Namun, ketika sebuah rindu, asa dan gelisah terakumulasi berlebihan, maka ia malah kontraproduktif bagi kelahiran sang idaman. Karena cemas akan mengurangi kualitas sperma dan membuat cairan vagina menjadi asam. Itulah sebabnya saya berkata pada pasutri yang telah tujuh tahun menanti : *�Cemaslah secukupnya, dan berharaplah tanpa batas...�*. Lalu, kinipun mereka telah berputra dua.

Sungguh, di luar sana ada rBundaan anak tak berayahbunda. Mereka juga berhajat akan kehangatan dan asuhan, bukan panti asuhan. Seringkali mereka adalah anak-anak kita yang hadir lewat rahim yang lain. Tataplah mata mereka, bukankah mereka sungguh anak-anak kita ? Mereka juga butuh diasuh oleh fitrah keayahbundaan dan oleh parenting dari buku dan seminar. Kelak, andai kita bisa tuntun mereka ke tangga keshalehan, maka doa mereka untuk kita. Ya, bukan satu-dua doa anak shaleh, tapi puluhan doa anak shaleh. Kelak, andai kita bisa didik mereka ke jalan kebenaran, sungguh mereka akan bersama Rasulullah SAW di dalam surga, karena setiap yatim adalah kekasih Beliau  SAW. Lalu, mereka akan berbisik ke telinga Rasulullah SAW tentang syafa�at untuk kita.

Ayahbunda, terkadang sebuah karunia dan amanah butuh penjemputnya. *Penjemputnya adalah ilmu dan tekad untuk memenuhi prasyaratnya.* Jika ayahbunda ingin dikaruniai sebuah mobil, maka belajarlah mengemudi, buatlah SIM dan bangunlah garasi di rumah, walau hari ini belum punya sekeping rodapun. Agar Allah *�membaca�* sebuah tekad, kesungguhan dan harap yang terwujud nyata. Dan, ketika ayahbunda mendamba hadirnya benih peradaban yang ingin disemai di dalam rumah, maka tunjukkanlah padaNya betapa ayahbunda telah begitu siap untuk mendekapnya dan mengasuhnya, lewat kedalaman parenting bagi anak-anak lain. Dan jika Allah ternyata tak jua menghadirkannya, itulah cara Allah Yang Maha Pengasih untuk mengurangi beban hambaNya di akhirat kelak.

???????????
Materi ini adalah edukasi untuk (calon) ayah bunda dimana apa yang dijelaskan dalam materi adalah bahasa ilmiah yang tidak bisa dihindari dalam konteks pembahasan reproduksi manusia.

???????????
_Tim Fasilitator ?atrikulasi#5 HEbAT Community_

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 4 - Tazkiyyatun Nafs

September 17, 2017 Add Comment
??????????????????????

*Materi pokok 4?*
????????


*Tazkiyyatun Nafs*
(Selanjutnya penulis singkat jadi TN)

?? Nara Sumber : Rita Riswayati


??Tazkiyyatun Nafs sesungguhnya diperuntukan bagi orang yg sdh aqil baligh, sdh atau belum menikah, punya anak atau tidak, guru maupun murid.

??Dari kitab tafsir Ibnu Katsir, Tazkiyyatun Nafs artinya *membersihkan/mensucikan , maknanya adalah tunduk dan ta'at*

Jadi *how*nya, apapun yg bisa membuat kita makin tunduk dan ta'at pada Alloh.
Efeknya hati menjadi bening, jernih jiwapun sehat baru bimbingan Alloh, Rosul, orang" sholih dan apapun serta siapapun 'guru kehidupan' akan membuat kita dapat mengambil hikmah.

??Menurut ustadz Harry Santosa, Tazkiyyatun Nafs teknisnya adalah dengan berkegiatan sesuai aspek-aspek fitrah. Fitrah keimanan dan seterusnya.

??Kembali ke resume kitab tafsir Ibnu Katsir, start dan finish beban penghambaan adalah Tauhid yg membersihkan jiwa dari syirik dan berbagai akibatnya spt 'ujub, dengki, sombong, kikir , *amarah*, dzolim, cinta dunia, dll.

??TN bertujuan mensucikan diri plus melepaskan beban, kecuali penghambaan. Jadi apapun amanahNya, termasuk anak,jadikan itu aktualisasi diri dari penghambaan kita kepada Alloh.
Udah, kelar masalah kita??

?? *Induk Sarana TN*:
> Sholat (Al -Ankabut: 25)
> Zakat, infak, shodaqoh ( Al Lail : 18)
> Shaum ( Al Baqoroh: 183)
> Tilawah Al Qur'an:  Al Anfal: 2)
> Dzikir ( Ar- Ra'd: 28 & Al-Fajr: 27-28)
> Tafakkur (Ali Imron: 190-193)
> Mengingat kematian (Al- A'raf: 185)
> Muhasabah harian (Al Hasyr: 18)
> Mujahadah /bersungguh-sungguh ( Al 'Ankabut: 69)
> Amal Ma'ruf dan nahi munkar (Al Ma'idah: 78; Asy-Syams: 9; Ali Imran: 104)
> Melakukan pelayanan umum dan khusus dan tawadhu' ( Al Hijr: 88)
> Taubat ( Al Furqon: 70)


_dinukil dari Intisari Kitab Ihya'Ulumuddin, syekh Imam Al Ghazali_

????????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 3 - Fitrah Orangtua (Keayahbundaan)*

September 17, 2017 Add Comment
????????????????????????

*Materi Pokok* 3?
*Fitrah Orangtua (Keayahbundaan)*



Penulis :
Ust. Adriano Rusfi, Psi

"Tetap optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah ayahbunda."

Bahkan pada tiap ayahbunda parenting yang diinstall pun berbeda-beda. Begitulah hebatnya ilmu Allah.

Selain belajar tentang fitrah anak, mari belajar fitrah ayahbunda. Karena yang paling ahli mendidik anak bukanlah saya, tapi ayahbunda mereka.

Fitrah ayah dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka.

Fitrah ayahbunda itu minimal ada tiga :

Pertama, fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi dan sebagainya. Jadi, dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayahbunda juga manusia, bukan robot parenting

Kedua, fitrah sebagai laki-laki dan perempuan, yang wujud dalam maskulinitas dan femininitas. Sehingga, dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan.

Ketiga, fitrah sebagai orangtua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak-anak. Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.

Jangan sampai teori parenting yang kita pelajari melumpuhkan naluri, intuisi dan firasat parenting kita.

"Minta fatwalah pada hatimu, karena kebajikan adalah apa-apa yang menenteramkan hati" (dari HR: Ahmad 4/227-228)

Mereka-mereka yang terbiasa dengan amalan nafilah (sunnah), maka Allah akan menjadi mata, telinga, tangan dan kaki, yang dengannya di melihat, mendengar, bekerja dan berjalan (dari Hadits Qudsi)

Belakangan kita agak mengabaikan dan kurang mempertajam firasat. Padahal Rasulullah SAW bersabda :

"Hati-hatilah dengan firasat mu'min. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah"

Parenting yang baik adalah parenting yang mampu meningkatkan kepercayaan diri para Ayahbunda untuk mendidik anak-anaknya sendiri berdasarkan fitrah pendidikan.

Parenting yang buruk adalah parenting yang membuat Ayahunda tergantung kepada para mentor parenting dalam mendidik anak-anaknya.

Jika ditanyakan kepada saya "apa modal yang terbaik dalam parenting?", maka saya akan mengatakan modal terbaik dalam parenting adalah cinta dan ketulusan.

Sebagai Ayahbunda dengan segala kelemahannya, maka kita pasti akan melakukan sejumlah kesalahan dalam mendidik anak-anak kita. Namun, cinta dan ketulusan akan mengkoreksi segala kelemahan dan kesalahan tersebut.

Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka.

Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita.

Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.

Bashirah dalam hal apapun lahir dari totalitas, dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap segala hal yang akan kita tangani.

Allah telah berjanji bahwa orang-orang yang total dan dedikatif dalam menangani segala hal, maka Allah akan menunjukkan banyak jalan baginya. Dan mereka mereka yang telah menjual dirinya kepada Allah, diantaranya melalui pendidikan bagi anak-anaknya, maka Allah akan menjadi penyantun baginya.

Sahabat, Tentang cara mempertajam bashirah saya sudah menyampaikannya di atas

Salah satu indikatornya adalah : jika hati kita tenteram untuk melaksanakan sesuatu terhadap anak-anak kita, walaupun itu bertentangan dengan sejumlah teori parenting, maka sesungguhnya ketentraman hati itu adalah pertKamu dari bashirah Islamiyah.

Bashirah Islamiyah itu bukan hanya menjadi hak prerogatif dari orang-orang yang memiliki tingkat keimanan tertentu saja, karena sesungguhnya Allah tidak pernah kikir memberikan ilham-ilhamNya kepada siapa saja.

Bahkan ilham dari Allah Ia berikan terhadap orang kafir sekalipun. Makanya tak mengherankan jika kreasi iptek banyak Allah ilhamkan kepada orang-orang kafir.

Jadi jangan pernah merasa tak cukup bertaqwa untuk bertanya pada hati. Allah tidak se selektif yang kita bayangkan. Kasih-sayangNya jauh melampaui angan-angan paling optimis kita

Sahabat, Jauhi hal-hal yang meragukan, lakukan hal-hal yang hati kita yakin

Yakin itu bermula dari ilmu yang melahirkan pemahaman. Jika sebuah ilmu justru melahirkan keraguan dan ketidakpercayaan diri, maka ilmu itu harus dijauhi

Ragu dan waswas itu datang dari syaithan. Obatnya adalah ilmu dan ta'awudz



??????????????????
Disusun kembali oleh Tim Fasilitator HEbAT Community
---------------------------------------------

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 2 - Pernikahan Ideal Gerbang Awal Menuju HE

September 17, 2017 Add Comment
??????????????????????

*Materi Pokok 2?*
*Pernikahan Ideal Gerbang Awal Menuju HE*
?? Ust. Adriano Rusfi



-------------------------------------------------------

_"Hai Anak Muda, menikahlah sebelum mapan. Agar anak Kamu dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda. Agar Kamu dan anak-anak Kamu kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah. Jangan sampai Kamu meninggalkan anak Kamu yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan."_ (Ust.Adriano Rusfi)

Waktu berjalan cepat, kehidupan menuntut manusia untuk lebih cepat tanggap terhadap keadaan. Salah satu keadaan yang paling urgen adalah kedewasaan mental.

Salah satu bukti bahwa seseorang sudah dewasa secara mental adalah ketika seseorang sudah mampu mencukupi dirinya sendiri, bertanggung jawab dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Keberanian untuk mengambil resiko kiranya menjadi mutiara yang berharga di tengah arus global yang sarat memanjakan harapan.

Kedewasaan mental tak diukur dari menjamurnya umur, namun diukur dari seberapa besar kemampuan untuk mengatur sebuah persoalan menjadi tantangan. Ya, masalah harus dihadapi dan tantangan harus diselesaikan. Salah satu masalah dan tantangan yang Allah taqdirkan adalah saat pria dan wanita mulai mengikat janji suci dalam gerbang pernikahan. Semua bermula saat mereka menjadi pasangan suami dan istri.

Saat telah menjadi suami dan istri, kedewasaan mental amat diperlukan. Karena hanya pasangan suami dan istri yang dewasa lah, yang tidak akan takut terhadap kalkulasi-kalkulasi dunia yang menggelembung seakan tak bisa dijangkau. Justru di tengah keterbatasan itulah terdapat berBunda kebahagiaan bagi orang yang tak pernah putus asa. Sebab pahala kesabaran adalah pahala yang tidak ada ukurannya.

Di Indonesia, kaum adam mestinya lebih bersyukur karena bila mental sudah matang dapat lebih mudah melangkah ke jenjang pernikahan. Di negeri ini, kaum hawa tak banyak menuntut mahar yang mewah, tidak seperti di negara-negara lain. Di negara-negara tertentu, mungkin Kamu akan menjumpai betapa mahar yang perlu dihadiahkan sangat besar sehingga tak jarang dari mereka menikah setelah berumur 30an.

Kini, Kamu dapat selangkah lebih maju menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dalam istilah Rosul adalah setengah dari agama. Kehidupan sarat berbagai pahala besar yang diidentikkan sebagai bagian dari ibadah terindah bagi anak manusia.

?? Alasan pentingnya pernikahan menjadi gerbang Pendidikan Fitrah:

1. *Keluarga dibangun di Atas Mimpi-Mimpi Besar*
Bagi laki laki, menikah tidak cukup mengandalkan ketampanan. Lebih dari itu, seorang laki laki yang kedepannya menjadi seorang ayah harus mempunyai tanggung jawab yang matang. Tanggung jawab itulah kekayaan terbesar dalam sebuah rumah tangga. Sebuah rumah tangga akan berjalan sebagaimana mestinya bila kedua pasangan dapat memahami tanggung jawab dan peranannya masing-masing.

Selain itu, juga akan mengantarkan pasangan suami istri untuk lebih fokus ke arah cita-cita besar. Bukan berpikir bagaimana yang penting bisa makan, namun berpikir bagaimana bisa memberi makan orang lain (anak). Rumah tangga baru seperti inilah rumah tangga yang masih dipayungi semangat idealisme. Lambat laun pasti akan menemukan jalan kebijaksanaan dalam beridealisme.

Keluarga yang dibangun dengan mimpi-mimpi besar adalah keluarga yang berperan bagi terbangunnya batu bata peradaban melalui pendidikan keluarga yang visioner, bertujuan dan strategis

2. *Mendidik Anak Lebih Baik dari Orang Tuanya*
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya. Melalui berbagai kegagalan ayahnya di masa muda, juga kebersamaan dalam menjalani rumah tangga dari nol justru akan menguatkan sebuah ikatan bahtera rumah tangga.

Nah, dari masalah-masalah yang timbul itulah sebuah keluarga akan menjadi kuat bila dihiasi dengan kesabaran yang terbaik. Dengan demikian, nasehat seorang ayah bukan hanya di bibir, namun dari hati seperti nasehat bijak seorang Lukman.

Pasangan yang menikah dengan niat baik, akan mendidik anaknya mencapai prestasi yang dituju. Belajar dari masa muda masing masing, pasangan suami istri akan mengajarkan kepada anaknya bahwa kesalahan itu sebuah resiko yang merupakan proses menuju tangga kebenaran.

Dengan kata lain, anak yang dilahirkan pasangan suami istri yang baik, tidak akan takut mencoba hal-hal baru. Justru hal-hal baru tersebut akan terus memacu anak untuk menemukan dan terus mencari sendiri kebenaran hakiki.

3. *Hidup adalah Kerja Keras*
Dengan segenap keterbatasan, pasangan suami istri akan memberikan pelajaran kepada anaknya bahwa hidup adalah perjuangan penuh kerja keras. Di dalam kehidupan, orang yang mempunyai bakat tidak akan berhasil tanpa adanya kerja keras. Karena kerja keraslah penentu keberhasilan seseorang. Tuhan hanya melihat kerja keras manusia, kesungguhan untuk meraih segala cita-cita.

Begitu pula di dalam rumah tangga, terlalu memanjakan anak dengan mudah memenuhi segala kebutuhan berakibat menghambat potensi anak. Selain itu, akan berbahaya juga bagi masa depannya karena hidup yang diketahui sebatas ingin dan segera terpenuhi. Terlebih, jangan sampai anak kita nanti tidak tahu bahwa hidup sebenarnya adalah penuh kerja keras.

4. *Life is Begin at Fourty*
Hidup yang sebenarnya adalah hidup ketika menginjak umur 40 tahun. Usia 40 tahun adalah usia matang dan menjadi usia yang harus sudah mapan. Mapan di sini dapat diartikan sebagai kemapaman psikologis dan kemapanan materi.

Kemapanan psikologi dapat berupa kesempurnaan akhlak dan moral menuju masa depan yang sebenarnya. Sedangkan mapan secara materi, seseorang yang telah berumur 40 tahun sudah tidak lagi memikirkan hal-hal bersifat materi duniawi.

Sebuah rumah tangga yang memapankan dirinya di usia 40 tahun akan memiliki nafas perjuangan yang lebih panjang hingga akhir hayat. Karena tubuh, jiwa dan ruhani yang masih sangat bugar.

Jangan biarkan waktu kalian dimasa lajang berlalu begitu saja tanpa adanya percobaan hal-hal yang baru. Habiskanlah rasa penasaran, kegagalan dan seluruh kematangan rencana Kamu di masa lajang. Jangan sampai ketika masa berumah tangga Kamu menghampiri, Kamu baru sadar akan keinginan-keinginan dan ambisi Anda. Umur 40 adalah umur terbebasnya dari segala keinginan.


5. *Menikah Usia Muda Solusi Kehidupan*
Menikah di usia muda juga akan membantu Kamu menyelesaikan urusan-urusan dunia. Sebagaimana dalam Al Quran, bahwa menikah bukan hanya dicukupkan, namun Allah memberikan janji akan mengkayakan bagi setiap hambanya yang beriman.

Menikah muda merupakan solusi agar ketika Kamu berumur usia lanjut, sudah tidak memikirkan biaya kehidupan seperti biaya listrik, sekolah anak dan biaya-biaya lainnya. Biarlah anak Kamu nantinya yang akan menjaga Kamu menikmati masa-masa penuh kebahagiaan.

Menikah di usia muda akan melahirkan keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan sejuta idealisme yang masih membuncah, dan diserap oleh anak-anak yang lahir dengan kualitas genetik kelas wahid dari rahim yang masih fresh.

6. *Dunia Butuh Anda*
Setelah melewati liku-liku perjalanan pernikahan di usia muda, akan tiba saatnya segala kebutuhan Kamu terpenuhi. Kini, kesBundakan Kamu hanya ingin membantu dan membantu sesama manusia mewujudkan predikat manusia terbaik paling bermanfaat bagi sesama.

Kenanglah, bahwa peran Kamu sangat dBundatuhkan dunia. Sudah tiba saatnya Kamu membangun apa yang dBundatuhkan dunia, berkontrBundasi dan turut menyumbang secuil peradaban. Wariskanlah kepada anak cucu Kamu nanti bahwa Kamu dulu dikenal sebagai orangtua yang hebat!

Lalu, bagi Kamu yang masih menanti, tunggu apalagi untuk menuju singgasana raja sehari? Dengan memohon keikhlasan Allah, semoga jalan Kamu dipermudah.

??????????????????????

*Keterangan*
1. Judul asli "MENIKAH SEBELUM MAPAN"
2. Judul dan isi telah direvisi sesuai tujuan nilai nilai HE. Serta telah direview dan mendapat izin ustad Adriano Rusfi (SME Utama HEbAT Community).

- Tips Bunda dan BayiMateri Pokok 1 - Apa dan Bagaimana Home Education

September 17, 2017 Add Comment


#Materi Pokok 1

??  "Apa dan Bagaimana Home Education" ??

Narasumber :
?? Ust.Harry Santosa
??Bunda Septi Peni Wulandani
----------------------------


Bagian 1
?? Home Education
(Pendidikan berbasis Rumah)


Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar�i yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanah-Nya.


Jadi tidak ada yang �LUAR BIASA� yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang �SEMESTINYA� orangtua lakukan. Maka syarat pertama adalah �dilarang minder� ketika pilihan kita berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan �misi hidup� dari Sang Maha Guru.


?Home Education dimulai dari proses seleksi calon ayah/Bunda yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak yang pertama adalah mendapatkan ayah dan Bunda yang baik.
? Setelah itu kemudian dilanjutkan mulai dari proses terjadinya anak-anak di dalam rahim Bunda, sampai dia lahir.
?Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun
? Tahap usia 8-14 tahun,
? Pada usia 14 tahun keatas kita sudah mempunyai anak yang aqil baligh secara bersamaan.


Home Education sebagai orang tua dan untuk anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.


Kita dipercaya sebagai penjaga amanah-Nya, SEMESTINYA, kita menjaganya dengan ilmu, sehingga orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya merupakan hal yang BIASA, namun sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yang mau melakukannya.


??Hal-hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
? Mendidik
? Mendengarkan
? Menyanyangi
? Melayani (pada usia 0-7 thn)
? Memberi rasa aman & nyaman
? Menjaga dari hal-hal yang merusak jiwa dan fisiknya
? Memberi contoh dan keteladanan
? Bermain
? Berkomunikasi dengan baik sesuai dengan  usia anak


Bagian 2
?? �OUTSIDE IN� vs �INSIDE OUT�


Tugas mendidik bukan menjejali  atau \�OUTSIDE IN�, tetapi �INSIDE OUT�,  yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitrah baiknya sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah, dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.


Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.


?Fitrah Kesucian.
Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, dan malu terhadap dosa.
?Fitrah Belajar.
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
? Fitrah Bakat.
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi ini pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
? Fitrah Perkembangan.
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintahkan untuk mengajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak.


?? Pendidikan Berbasis Shiroh

Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti. PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN adalah 2 hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yang merupakan panggilan hidupnya.


?? Pendidikan Berbasis Potensi & Akhlak

Yang dimaksud disini adalah yang terkait dengan performance (kinerja). Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu  menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.

Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.

Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya, termasuk dalam hal pendidikan.

"Semangat belajar & bertumbuh bersama, saling menginspirasi dalam kebaikan"

Disusun Oleh:
 Tim Fasilitator Nasional HEbAT Community


???????????????????

- Tips Bunda dan BayiKapan bayi sudah dapat dibacakan buku cerita?

September 17, 2017 Add Comment


Ini loh salah satu alasan saya selain 1000 alasan keukeuh lainnya kenapa Ula mesti di biasakan dibacakan buku ??
terimakasih teh dinaa kuu sudah mengingatkan kembali ??
terimakasih juga Ayah Alula sudah menjadi support terbaiks .. baik materi dan ikut bacain dongeng buat Ula haha meski kadang lucu jga denger Ayah ngedongeng teh sok bodor wae ?? ?? .
.

Maafkan fotonya pake foto usia Alula udah 14 bulan,  dia udah terbiasa baca buku sendiri sambil mulutnya ngoceh sendiri hehe..

Foto diatas di ambil saat Ula bangun tidur ingin cebok,  beres di pos pak malah langsung kabur ambil buku,  bukannya di celana hehe

Saking seneng dan semangatnya pengen baca buku kesayangan Alula..

@Regrann from @dinakangenparenting -  Kapan bayi sudah dapat dibacakan buku cerita?

Kalau saya sendiri kembali lagi ke tujuannya. Banyak orang masih mengira anak dibacakan buku dengan tujuan agar ia cepat lancar membaca. Itu benar, namun hanya merupakan salah satu manfaat. Bukan satu-satunya manfaat
.

Menurut saya, tujuan awal seorang anak diperkenalkan buku adalah agar ia mencintai proses ini. Karena diharapkan proses membaca ini berlangsung seumur hidup. Dan karena proses yang panjang, kalau dia tidak suka & cinta, bisa ditinggal dan diputus di tengah jalan. Sehingga idealnya di awal ditanamkan dulu kecintaan pada buku. Sebelum diajarkan teknik membaca
.

Sama seperti memilih suami / istri. Yakin dan cinta dulu, baru akhirnya memilih menjadi pasangan seumur hidup. Keyakinan dan kecintaan itu yang akhirnya membuat kita tetap memutuskan tetap bersama, walaupun ada rintangan sesulit apapun
.

Serupa dengan membaca. Walaupun nantinya ada gadget yang menarik, bacaan yang sulit, atau bacaan yang membosankan. Jika sedari dini anak dibiasakan membaca buku, maka anak akan mencintai prosesnya, ia akan mencari cara untuk tetap terkoneksi dengan buku, betapapun sulitnya hal tersebut diwujudkan.
Sehingga sebenarnya untuk membuat anak bisa dan mau membaca, bukan tunggu nanti. Tunggu nanti mungkin bisa, namun prosesnya terlalu lebih panjang, sulit, dan tidak menyenangkan. Jadi mengapa tidak sekarang ini? Saat anak masih bayi. Sedini mungkin. Bahkan sejak si kecil masih di dalam kandungan pun sudah bisa. Agar ia mencintai dulu prosesnya. Agar orang tua pun lebih mudah dan menyenangkan dalam proses mengenalkan anak ke dunia membaca ? .

Di gambar : buku #SuaraApaItu
Repost @Rabbitholeid - #regrann

- Tips Bunda dan BayiTampilan Aplikasi Playstore Hafiz Hafizah Talking doll

September 17, 2017 Add Comment










Hafizdoll versi terbaru makin oke????,
ini tampilan aplikasi hafiz hafizah yang bisa di download di playstore yah..
.

dan Hanya bisa dioperasikan bila disambungin ke boneka Hafiz atau Hafizah lewat fitur bluetooth


Mau punya hafizdoll juga?
Tanya ke sini aja ya 085723736849
#HafizTalkingDoll #mainanEdukasi #mainanAnak #bonekaAnak #bermainBelajar #cerdasDansholeh

- Tips Bunda dan BayiIlmu Mendidik Anak yang Terbaik Diawali dengan Tazkiyatunnafs atau Pensucian Diri Para Orangtua

September 13, 2017 Add Comment
?? _Dari status FB Ust. Harry Santosa_

?Pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orangtua dalam mendidik anaknya adalah kata *"bagaimana"*, misalnya "bagaimana mengatasi anak yang keras atau susah diatur", "bagaimana menghadapi anak yang dBundally" , "bagaimana mengatasi anak malas belajar" dstnya.

Kemudian para praktisi parenting mengeluarkan jurus "tips & trick" untuk menjawab "bagaimana". Sudah bisa diduga, jawaban yang ditunggu para orangtua adalah jawaban "cespleng" bagai "magic medicine" yang cocok untuk semua anak.

Dan sudah diduga, para praktisi kemudian berusaha memberikan "obat jitu" yang diupayakan cocok bagi semua situasi dan kondisi. Walhasil, orangtua bisa frustasi karena belum tentu cocok, tidak semua masalah perlu obat yang sama bahkan mungkin tidak perlu obat sama sekali karena hanya jeritan hati yang memerlukan bimbingan untuk menemukan jalan keluar.

Kemungkinan kedua, para orangtua yang sangat mudah "bertanya" kepada orang lain, sebelum mencoba merenungi dan menemukan jawabannya sendiri ini, menjadi kecanduan bertanya alias ketergantungan tingkat tinggi pada ahli parenting.

Mohon maaf, ilmu mendidik anak sesungguhnya bukan ilmu "bimbingan test" yang mengeluarkan rumus dan "cara cepat" atau "smart solution" untuk mengerjakan soal soal ujian yang keluar setiap tahun. Ilmu mendidik bukanlah ilmu instan tetapi ilmu sepanjang masa masa mendidik anak sejak lahir sampai aqilbaligh. Ilmu mendidik bukan ilmu pengetahuan belaka tetapi ilmu pengenalan dan pengakuan akan adanya keindahan fitrah dan kemuliaan adab.

Karenanya, Ilmu mendidik anak juga sesungguhnya adalah ilmu yang memberikan kepercayaan diri, rasa optimis dan ketenangan pada orangtua bahwa Allah telah berikan hikmah yang banyak pada dirinya untuk mendidik anak anaknya dengan baik jika bersungguh sungguh memenuhi panggilan Allah untuk kembali ke fitrahnya mendidik anak anaknya.

Ilmu mendidik anak seharusnya mampu mengembalikan orangtua pada fitrah keayahan dan fitrah keBundaannya termasuk fitrah mendidik anak anaknya sesuai fitrahnya.

Ilmu mendidik anak sejatinya mendorong orangtua untuk menajamkan fitrah keayahan atau fitrah kebundaannya, menajamkan firasat dan nuraninya dalam menyelesaikan masalah dan menemukan cara terbaik merawat,  menumbuhkan dan membangkitkan fitrah anak anaknya.

Ilmu mendidik anak seharusnya tidak membuat orangtua menjadi tergantung dan takut dalam mendidik anak anaknya, karena dirinyalah yang diberi amanah anak anaknya oleh Allah, maka Allah pasti tidak salah pilih dan Allah pasti berikan hikmah yang banyak. Ilmu mendidik anak sejatinya membuat orangtua semakin bergairah dan bersemangatserta percaya diri.

*Maka ilmu mendidik anak seharusnya mampu menjawab lebih banyak "Why" bukan "How" karena para orangtua akan dibawa untuk melihat gambaran utuh keseluruhan maksud pendidikan dan kaitan antara pendidikan dengan maksud penciptaan manusia di muka bumi dan peran peran peradaban yang harus mereka jalankan dan tuntaskan dalam rangka maksud penciptaannya itu.*

Pertanyaan "bagaimana cara bershabar menghadapi anak" akan berubah menjadi "mengapa harus bershabar membersamai anak?". Pertanyaan "bagaimana" menuntut jawaban instan dan kepanikan. Pertanyaan "mengapa" mendorong untuk tenang dan optimis menemukan jawaban yang mengakar.

Pertanyaan "bagaimana mengatasi anak yang keras kepala" , akan lebih terasa lebih fitri, menenangkan dan optimistik bila menjadi "mengapa anKamu begitu kuat leadershipnya?".

Maka ilmu mendidik anak yang terbaik selalu diawali dengan Tazkiyatunnafs atau pensucian diri para orangtua.

Yang pertama, yaitu mua'ahadah atau untuk menyadari kembali fitrah perannya sebagai orangtua, untuk mengingat kembali janji janji pernikahannya kepada Allah.

Mu'ahadah adalah proses awal untuk menyadari kembali apa sesungguhnya makna mendidik anak dalam hidupnya serta kaitannya dengan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardh dan hamba Allah.

Yang kedua, muroqobah, yaitu mendekat kepada Allah, agar Allah berikan Qoulan Sadida berupa tutur yang indah berkesan, idea yang bernas menggugah, hati yang berempati menenteramkan, sikap yang keren dan pantas diteladani dalam mendidik anak anaknya.

Yang ketiga, mujahadah, yaitu menjalankannya dengan sungguh sungguh, tidak separuh hati dan sisa tenaga dalam mendidik. Meyakini bahwa mendidik anak sesungguhnya adalah mendidik diri sendiri. Menumbuhkan fitrah anak sesungguhnya menumbuhkan fitrah diri sendiri. Mengadabkan anak sesungguhnya mengadabkan diri sendiri.

Yang keempat, muhasabah, yaitu senantiasa melakukan evaluasi dan perencanaan kembali. Membuat ukuran ukuran progress dalam mendidik sesuai dengan fitrah dan tahapan perkembangan.

Yang kelima, mu'aqobah, yaitu jangan pernah merasa paling benar, mau menerima dan bertaubat mengakui kesalahan lalu menerima segala akibatnya dengan ikhlash dan segera memperbaikinya.

Allahlah sesungguhnya Murobby (Pendidik) sejati anak anak kita, karena Allahlah yang paling mengetahui hakekat setiap fitrah anak anak kita, dan Allah tidak salah pilih karena telah memilih kita untuk memegang amanah dan karunia mendidik fitrah dan adab anak anak kita.

Banyaklah bersyukur sebagaimana Luqmanul Hakiem, sehingga Allah berikan banyak hikmah sebelum mendidik.

Mari, wahai para orangtua, kita asah kembali fitrah keayahan dan fitrah keBundaan kita yang sudah lama tertidur, mari kita tajamkan nurani, naluri, firasat, intuisi dalam mendidik anak anak kita sendiri sesuai fitrahnya. Bukankah Nabi SAW berpesan, "Takutlah kalian pada firasat orang beriman".

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak/adab

- Tips Bunda dan BayiMENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR

September 13, 2017 Add Comment
MENDIDIK FITRAH BELAJAR DAN BERNALAR



Oleh: ustad Harry Santosa


�Baby born as a Scientist� begitu menurut pakar prof. Gopnick yang selama puluhan tahun bergelut dengan dunia anak. Dia melihat anak punya kecakapan setara seorang filsuf dan berfikir ilmiah layaknya seorang pakar sains.

Dalam sebuah riset, seorang anak 3 tahun diberi tantangan untuk menduga mengapa sebuah kotak dengan cara menumpuk tertentu bisa mengeluarkan cahaya lampu dan mengapa dengan cara yang sama kotak lain tidak mengeluarkan cahaya sama sekali.

Dalam hitungan tidak sampai 3 menit, anak usia 3 tahun sudah dapat mengeluarkan banyak hipotesis.

Dalam riset lain, Sugatra Mitra seorang pakar IT, mendapatkan anak anak desa di india, yang tidak sekolah, mampu �self learning� dan mendapat nilai ekselen setara dengan sekolah terbaik dengan guru terbaik di New Delhi, padahal hanya ditinggalkan 8 bulan bersama komputer yang telah dipasangkan pelajaran �DNA Exchange� dan didampingi seorang gadis perempuan yang memberi semangat di belakang mereka.

Wow, inilah kehebatan fitrah belajar dan bernalar yang Allah SWT telah instal kepada makhluk yang ingin dijadikan Khalifatullah fil Ardh. Perhatikanlah bahwa setiap anak sejak lahir adalah pembelajar sejati, tidak ada anak yang memutuskan merangkak sepanjang hidupnya ketika berkali kali jatuh saat belajar berdiri dan berjalan.

Begitulah Allah telah membekalkan manusia agar mampu memikul tanggungjawabnya untuk merawat dan memakmurkan bumi. Dalam Islam manusia memang dilahirkan �bodoh atau tanpa pengetahuan�, tetapi Allah telah menginstal dalam jiwa mereka keimanan, akhlak dasar yang dapat membedakan perlakuan baik dan buruk, kemampuan dasar interaksi sosial, sifat sifat unik, pola makan dan tidur, seksualitas sebagai lelaki dan perempuan dll yang semuanya itu bukan wilayah pengetahuan yang diajarkan, tetapi terinstal dalam jiwanya. Itulah fitrah.

Jangan salah paham, Fitrah bukan tipe kecerdasan, tetapi potensi potensi dasar manusia untuk dirawat, dikuatkan, disadarkan, dikembangkan dan dikokohkan sehingga kelak menjadi peran peradaban dalam segala bidang dasar kehidupan, baik personal maupun komunal.

Khusus untuk fitrah belajar dan bernalar, jika tumbuh paripurna maka kelak peran peradaban yang diharapkan adalah peran innovator yang menebar rahmat bagi alam semesta.

Lalu mengapa sepanjang masa kita menjalani masa persekolahan? fitrah belajar dan bernalar ini seolah redup. Bahkan banyak diantara kita alergi dengan kata �belajar� apalagi �bernalar�. Persekolahan formal dianggap oleh banyak bakar sebagai �penyebab� anak membenci proses belajar dan bernalar.

Belajar seolah menjadi waktu �pengisian konten pengetahuan� yang mengerikan, daaan�.. bel istirahat, bel pulang serta lBundaran adalah masa paling membahagiakan. Bagi kita kebanyakan, belajar dan bernalar di sekolah sebenarnya adalah pacuan yang tak kemana mana (race to no where).

Lihatlah berapa banyak sarjana yang skripsi dan tesisnya adalah karya satu satunya dan terakhir sepanjang hidupnya?

Ya kita sesungguhnya bukan sedang belajar tetapi menjalani �ilusi belajar�. Seolah seperti orang sBundak �belajar� namun pada kenyataannya hanya sekedar memenuhi syarat kelulusan ujian dan berlomba masuk sekolah favorit atau bekerja di tempat yang mapan.

Bekal fitrah belajar dan bernalar yang seharusnya ditujukan untuk mencapai peran inovasi untuk melestarikan dan memakmurkan bumi, berubah menjadi perlombaan atau pacuan orang buta.

Berapa banyak orang yang menghafal rumus rumus namun tak mampu melahirkan karya inovatif. Berapa banyak orang menghafal alQuran namun tak memiliki gairah untuk Tadabur dan Inovasi yang melahirkan karya genuine. Padahal Ummat hari ini membutuhkan kemampuan Tadabur yang hebat.

________________

Lalu bagaimana mendidik Fitrah Belajar dan Bernalar?

Mendidik fitrah belajar dan bernalar harus berangkat dari *keyakinan bahwa semua anak suka dan bergairah belajar. Karenanya tidak tergiur untuk �too much teaching� atau �over stimulus� apalagi drilling dan menerapkan �reward & punishment�.*

Kita sesungguhnya hanya perlu menyemangati, mendorong gairah dan antusiasnya untuk �ikhlash belajar dan bernalar� melahirkan inovasi baru yang ramah bumi di setiap kesempatan dengan membimbingnya memunculkan banyak idea menantang atau menginspirasi agar anKamu melahirkan gagasan hebat.

Usia 0-6 tahun
� Merawat dan menguatkan konsep belajar melalui imaji dan abstraksi serunya belajar dan bernalar.

Di tahap ini imaji dan abstraksi anak sedang pada puncaknya, sementara aspek koginitifnya belum berkembang. Karenananya belajar dan bernalar di masa ini bukanlah dengan mengenalkan symbol dan cara belajar formal kaku. Maka bermain di masa ini adalah proses belajar yang disukai anak.

Permainannya pun bukan permainan kognitif namun permainan imajinatif, misalnya bermain peran �kuda kudaan�, �dokter dokteran� dstnya.

Permainannya harus �open ended� artinya tidak kaku dan dinamis. Jangan abaikan bermain atau berkegiatan di masa anak, inilah proses belajar dan bernalar terbaik untuk membentuk sikap.

Rasulullah SAW ketika usia 0-6 tahun berada di Bani Sa�diyah, setidaknya ada 7 hal terkait fitrah belajar dan bernalar ini yang Beliau dapatkan:

1. Belajar Bersama Alam (BBA), Lingkungan alam pedesaan yang nyaman untuk belajar dan bergerak serta untuk menguatkan senso motoriknya (muscle memory)

2. Bahasa Bunda (mother tongue) yang fasih dan sempurna

3. Belajar bersama orangtuanya untuk membangun kelekatan (attachment)

4. Belajar Kisah Kisah Kepahlawanan bersastra baik dan Kearifan lokal

5. Belajar Kepemimpinan (Executive Functioning) dengan memelihara hewan

6. Belajar Mendaki Bukit untuk membentuk sikap dan fisiknya

7. Belajar Mengenal dan Mencintai Allah melalui ciptaanNya

Belajar bagi anak usia ini adalah proses bermain imajinasi yang menyenangkan dalam cara pandang mereka, bukan cara pandang orang dewasa. Anak yang sudah cinta belajar akan belajar sepanjang hidupnya.

Karenanya jangan tergesa gesa ingin anak serba bisa pada yang tampak, bukan pada apa yang memberi dampak. Anak yang segera bisa membaca belum tentu suka buku dan suka belajar sepanjang hidupnya.

________________

Usia 7-10 tahun
� Masa menumbuhkan dan menyadarkan potensi fitrah belajar dan bernalar

Di tahap ini fitrah belajar dan bernalar sedang pada puncaknya. Logika dan kritis anak sudah berkembang sangat baik. Anak mulai menyadari adanya aturan, adanya symbol, adanya tanggungajawab dstnya.

Di masa inilah perintah Sholat dianjurkan untuk diperintahkan (disampaikam sebagai perintah) karena aqal sudah tumbuh pesat.

Inilah masa emas bagi fitrah belajar dan bernalar ananda. Maka metode terbaik adalah dengan diinteraksikan atau direlevankan dengan alam. Alam menjadi tempat terbaik, metode Belajar bersama Alam menjadi cara terbaik menumbuhkan fitrah belajar dan bernalar.

Logika anak yang tumbuh hebat bertemu dengan keindahan keteraturan Allah di alam semesta dan keindahan ayat Allah di Kitabullah.

Belajar bersama alam ada 3, bisa alam sebagai lingkungan belajar, bisa alam sebagai media belajar dan bisa alam sebagai obyek belajar.

Pada tahap usia ini umumnya alam sebagai obyek belajar dan menggali pengalaman. Konsepsi bahwa belajar menyenangkan pada usia 0-6 tahun, bergeser menjadi belajar sebagai penyadaran dan penumbuhan potensi inovator melalui karya karya kreatif dan solutif pada alam.

Belajar dan bernalar bukan tentang menguasai banyak pengetahuan, tetapi memperoleh pengetahuan sebagai efek dari bernalar dan berpengalaman di alam secara terus menerus, sebagaimana gambaran seorang Ulil Albab di dalam alQuran, yang memikirkan ciptaan Allah dalam semua keadaan (berdiri, duduk dan berbaring).

Pada tahap ini studi studi kasus real alam sekitarnya baik potensi alam maupaun problematika alam penting dibawa dalam proses pembelajaran agar potensi jiwa seorang innovator tumbuh subur.

Usia 11-14 tahun
� Uji potensi sehingga menjadi eksistensi peran innovator dan beradab kepada alam.

Di tahap ini daya inovasi akan bertemu dengan realita bakatnya dan realitas sosial masyarakatnya. Pengembangan potensi fitrah bakat harus dibarengi dengan kemampuan berinovasi agar peran dalam bidang kehidupan menjadi jauh lebih manfaat dan ramah alam.

Barangkali sering kita lihat karya yang dilahirkan dengan talenta hebat namun tidak inovatif. Ini karena tumbuhnya fitrah bakat tidak dibarengi tumbuhnya fitrah belajar dan bernalar.

Pada tahapan ini Belajar Bersama alam bergeser pada bagaimana Belajar dan Bernalar untuk berinovasi, memakmurkan dan melestarikan bumi serta menyelesaikan realitas sosial masyarakat sekitarnya.

>15 tahun.
� Ekistensi Peran Inovator dan Beradab kepada Alam

Salam Pendidikan Peradaban

- Tips Bunda dan BayiPerbedaan Home Education dengan Sekolah

September 13, 2017 Add Comment
*Perbedaan Home Education dengan Sekolah*

_By Ust. Harry Santosa_

Home Education (HE) atau Home based Education (HbE), sering diterjemahkan dengan pendidikan berbasis rumah.

HE sesungguhnya bukan hal baru dan bukan pilihan, tetapi kewajiban setiap orangtua untuk mendidik keluarganya, dirinya dan anak anaknya di rumahnya. HE sudah ada setua umur manusia di muka bumi, sejak zaman Nabi Adam AS.

Jadi tiada yang istimewa, biasa saja, hanya nampak "aneh" bagi para orangtua modern yang dari generasi ke generasi selama puluhan tahun menganggap tugas mendidik anak anaknya selesai ketika menyekolahkan anak anaknya, apalagi di sekolah mahal dengan kurikulum ganda.

Diantara mereka ada yang bilang, "oh tentu mendidik itu di rumah dan kewajiban kita orangtua". Namun pada kenyataannya porsi waktu menyekolahkan mengambil alih hampir semua waktu yang ada bersama anak anaknya. Sekolah penuh hari dan wacana prestasi akademis mendominasi keseharian anak. Lalu kapan porsi mendidik anaknya?

Obrolan pendidikan di rumah, selalu di bawa ke ranah persekolahan. Yang selalu jadi bahan obrolan di rumah biasanya adalah tentang ranking, nilai akademis, jumlah hafalan, sekolah favorit, les tambahan, persiapan ujian, PR dan tugas yang belum dikerjakan dstnya. Dinding kamar anak ditempeli nasehat agar rajin bersekolah agar pandai, bukan nasehat untuk menemukan kesejatian atau tumbuh menjadi diri sendiri.

Sistem persekolahan juga semakin membuat para orangtua lalai dari mendidik anak anaknya, seolah rumah adalah satelit sekolah yang harus mendukung sepenuhnya, padahal persekolahan adalah bagian saja dari pendidikan.

Bayangkan bagaimana istilah persekolahan mengambil hak rumah dalam mendidik, misalnya PR, sebenarnya adalah tugas sekolah yang dibawa ke rumah, tetapi diberi nama Pekerjaan Rumah (PR) bukan Pekerjaan Sekolah (PS). Padahal sepanjang sejarah, pekerjaan rumah itu adalah membantu Bunda di dapur, mendongeng atau berkisah bersama paman, membantu ayah berkebun atau berbisnis, membersihkan rumah, traveling seru bersama ayah atau kakek dstnya.

Come on, pendidikan bukan bicara tentang persekolahan semata, dia bicara bagaimana menyentuh jiwa manusia, berempati mendalam terhadap perasaan dan harapan juga kebutuhan mendalam, menggali potensi unik terpendam, membangun kelekatan dan kecintaan, menggairahkan seluruh aspek fitrah, membangun estetika, bahasa dan kehalusan jiwa dstnya.

Pendidikan Rumah (HE) sesungguhnya juga bicara kearifan keluarga yang diwariskan turun temurun, misi keluarga dalam pentas peradaban yang menjadi legacy sebuah keluarga, juga bicara peran sejati mendidik keluarga yang melibatkan ayah, Bunda, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, adik dstnya.

Persekolahan adalah ranah pengajaran, khusunya skill dan knowledge global, yang sebenarnya pada era knowledge seperti sekarang skill dan knowledge bisa didapatkan dari manapun sesuai kebutuhan. Keluarga bisa meracik sendiri kebutuhan skill dan knowledge yang dBundatuhkan sesuai keunikan keluarganya dan keunikan jiwa jiwa yang ada di dalamnya.

Karenanya HE sesungguhnya "not too much teaching", tidak terlalu banyak mengajarkan, karena agenda utamanya adalah banyak mendidik atau menumbuhkan potensi alami anak anaknya maupun orangtuanya secara alamiah. Kami menyebutnya dengan fitrah.

Ada yang mengatakan dengan pesimis bahwa orangtua akhirnya menyerah mendidik sendiri anaknya dan memasukkan anaknya ke sekolah. Itu umumnya adalah segelintir orangtua yang menempatkan dirinya sebagai guru dengan membawa sekolah ke rumah. Mereka umumnya  tidak memahami perbedaan pendidikan dan persekolahan.

Berikut adalah lebih jauh Perbedaan Home Education dengan Sekolah

1. Orangtua yang jalankan HE tidak perlu kualifikasi apalagi sertifikasi dalam mengajar mata pelajaran karena orangtua tidak banyak mengajar akademis tetapi memberi idea menantang dan inspirasi hebat (intrinsic motivation) agar anak tumbuh antusias dan gairah kecintaannya dalam belajar.

Jadi orangtua tidak perlu mengetahui semua hal apalagi dipersyaratkan harus S1, karena yang terpenting adalah gairah belajar orangtuanya bisa mengimbangi gairah belajar anak anaknya untuk bersama sama belajar dan memicu antusias anak anaknya.

Percayalah, anak yang cinta belajar akan belajar sepanjang hidupnya, anak yang terlalu banyak diajarkan akan terus minta diajarkan sepanjang hidupnya.

2.  HE tidak memerlukan jadwal ketat dan kurikulum ketat apalagi kurikulum nasional "kejar tayang" yang membuat orangtua dan anak sama sama tertekan. Yang diperlukan adalah framework dan panduan. Jadwal amat dinamis, karena mengikuti minat, keunikan dan antusias anak pada obyek tertentu yang berkesan dalam keseharian. Jadwal sebagai panduan umum boleh, namun HE lebih mengutamakan "Learning through Living" belajar melalui celah peristiwa yang berkesan.

Anak yang bertanya antusias dan curious tentang sesuatu yang berkesan dan menarik minatnya, tak mungkin ditunda sampai semester depan karena tidak sesuai jadwal dan kurikulum.

3. HE tidak mempermasalahkan anak bersekolah atau tidak, karena pendidikan yang utama adalah di rumah dan komunitas. Sekolah harus mendorong peran orangtua (melalui program parental engagement) dalam mendidik anak anaknya sendiri.
Orangtua berperan dalam mengobservasi 8 aspek fitrah anak anaknya. Kemudian merancang personalized curriculum dan portfolio plan. Sementara sekolah atau guru merancang class curriculum dan portfolio class lalu mengintegrasikannya

Setiap keluarga unik, setiap anak unik, setiap daerah unik maka tidak ada kurikulum seragam yang cocok untuk semua anak, keluarga dan daerah.

4. HE memberikan ruang seluasnya kepada orangtua dan anak untuk belajar dan berkegiatan bersama alam, bersama realita kehidupan, dengan semua jenjang usia. Sementara di sekolah anak dikumpulkan dan disegregasi sesuai kelompok umur yang sama.

Orangtua berperan kreatif dan inovatif untuk merancang kegiatan seru dengan siapapun dan dimanapun, karena begitulah sepanjang sejarah belajar bisa kepada siapa saja dan bersama siapa saja, itulah sosialisasi terbaik.

5. Dalam HE, orangtua tidak perlu menandai dan menilai aktifitas anak anaknya lalu kemudain mengevaluasinya di akhir semester dengan standar tertentu seperti di sekolah. Bukan demikian, karena di dalam HE orangtua dan anak langsung mengobservasi dan merefleksikan kegiatannya serta membandingkannya dengan capaian sebelumnya dan memperbaikinya jika diperlukan.

Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak oranglain, jangan pernah meminta mereka menjadi versi kedua dari orang lain, karena anak kita adalah "only one version", yang diciptakan unik dan satu satunya sepanjang sejarah.

Mari kita sambut panggilan Allah untuk kembali kepada fitrah sejati kita sebagai orangtua untuk mendidik fitrah anak anaknya. Ketahuilah, Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi Allah akan memampukan mereka yang terpanggil.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah