- Tips Bunda dan BayiMateri Kelas Bunda Sayang sesi #1 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Juni 30, 2017 Add Comment
Institut Bunda Profesional

Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1


KOMUNIKASI PRODUKTIF



Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI


Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.


Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.


Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir


Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.


Kata-kata Kamu itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda


Kata  masalah gantilah dengan tantangan


Kata Susah gantilah dengan Menarik


Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu


Ketika kita berbicara �masalah� kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.



Tapi jika kita mengubahnya dengan �TANTANGAN�, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.



Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya



Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.



Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.



KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN


Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa �aku dan kamu� adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.



Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah Bunda yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.



Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.



FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.



FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.



FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.



Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.



Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.



Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA



Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.



Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.



Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi



Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.



Maka bila Kamu dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.



Bila Emosi Kamu dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar Kamu dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.



Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.



Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Kamu dan pasangan:



1. Kaidah 2C: Clear and Clarify


Susunlah pesan yang ingin Kamu sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.



Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.



2. Choose the Right Time


Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Kamu yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.



3. Kaidah 7-38-55


Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.



Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).


Kamu tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan Kamu mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Kamu tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Kamu percayai?


Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Kamu sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.


4. Intensity of Eye Contact


Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati



Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Kamu terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Kamu juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.



5. Kaidah: I'm responsible for my communication results


Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.


Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.



Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Kamu dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.



KOMUNIKASI DENGAN ANAK


Anak �anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.


Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy



Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.


Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.


Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.


Bagaimana Caranya ?


a. Keep Information Short & Simple (KISS)


Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk


?Kalimat tidak produktif :

�Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.



?Kalimat Produktif :

�Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya�  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru Kamu berikan informasi yang lain)


b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah


Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh


?Kalimat tidak produktif:

�Ambilkan buku itu !� ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)


?Kalimat Produktif :

�Nak, tolong ambilkan buku itu ya� (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)


Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.


c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan


?Kalimat tidak produktif :

�Nak, Bunda tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !�


?Kalimat produktif :

�Nak, Bunda ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar�


d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu


?Kalimat tidak produktif :

�Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Bunda juga bilang apa. Makanya nurut sama Bunda biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Bunda jengkel!�


?Kalimat produktif :

�Bunda lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa Bunda bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi�


e. Ganti kata �TIDAK BISA� menjadi �BISA�


Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan �tidak bisa� maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata �BISA� akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.


f. Fokus pada solusi bukan pada masalah


?Kalimat tidak produktif :

�Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali Bunda ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!�


?Kalimat produktif:

� Bunda sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu�.



g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan


Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.


?Pujian/Kritikan tidak produktif:


�Waah anak hebat, keren banget sih�

�Aduuh, nyebelin banget sih kamu�


?Pujian/Kritikan produktif:

�Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Bunda tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak�


�Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Bunda tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?�


h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman


?Kalimat Tidak Produktif:

�Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat�


?Kalimat Produktif:

�Bunda dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya Bunda selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.


I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi


?Kalimat tidak produktif :

�Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

?Kalimat produktif :

� Bunda lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan Bunda?�


j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati


?Kalimat tidak produktif :

"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"


?kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?


k. Ganti perintah dengan pilihan


?kalimat tidak produktif :

� Mandi sekarang ya kak!�


?Kalimat produktif :

�Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat




Salam Bunda Profesional,



/Tim Bunda Sayang IIP/


Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000


Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015



Institut Bunda Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4


Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

??????????????????????

- Tips Bunda dan BayiMateri Bunda Sayang: Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif

Juni 30, 2017 Add Comment

Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif


Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ self concept yang nantinya akan menentukan harga diri/ self value dan percaya diri/ self confidence anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi. Kunci dalam komunikasi ialah perasaan. Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi. Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan Verbal Abuse, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang. Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak: ? Melemahkan konsep diri ? Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama ? Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak ? Kemampuan berfikir menjadi rendah ? Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri ? Iri ? Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial. Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. �Action is louder than words� Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita) 1. Jangan bicara tergesa-gesaSiapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu �sempit� atau �sedikit�? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak! 2. Ingat: Setiap pribadi unikHargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain. 3. Kenali diri sendiri dan anakKebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas. Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka. Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan. 4. Pahami perbedaan needs dan wantsSetiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya. 5. Pahami �Masalah Siapa?�Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. 6. Baca bahasa tubuhBahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan. 7. Dengarkan PerasaanKunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, �Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?�, �Adik sedih ya karna mainannya hilang?�. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut. 8. Mendengarkan dengan aktifJadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, �Oooh.. Begitu ya?� �Terus?� �Kamu kesal sekali ya?�. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita. 9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic) Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer: 1?Memerintah, contoh: �Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!� 2?Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, �Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar� 3?Meremehkan, contoh: �Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?� 4?Membandingkan, contoh: �Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau� 5?Memberi cap, contoh:�Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!� 6?Mengancam, contoh: �Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!� 7?Menasehati, contoh: �Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak� Tangan kan kotor banyak kumannya�� 8?Membohongi, contoh: �Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok� 9?MenghBundar, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, �Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi� ??Mengeritik, contoh: �Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!� 1?1?Menyindir, contoh: �Hmmm� Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi� 1?2?Menganalisa, contoh: �Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain�� Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus. 10. Gunakan �Pesan Saya�Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah �pesan saya� atau �i-message� yaitu dengan: �Ayah/Bunda merasa �. (isi perasaan kita) Kalau kamu �. (isi perilaku anak) Karena� (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain� Contoh: �Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga�. �Pesan saya� memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan �pesan kamu�. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, �Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!�. Dalam �pesan kamu�, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak. /Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/ Sumber Informasi: Catatan Seminar Elly Risman, artikelCemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1

- Tips Bunda dan BayiTahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum

Juni 30, 2017 Add Comment
Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum


PENDAHULUAN
            Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti : biologis, kognitif dan emosional.
            Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain.
           
PEMBAHASAN
  1. Reflexsive Vocalization
  1. Babling
  1. Lalling
  1. Echolalia
  1. True Speech
-  Pada usia 0-3 bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorok.
-  Pada usia 3-12 bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.
- Pada usia 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).
- Pada usia 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.
-Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.
            Ketika anak tumbuh dan berkembang terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan). Produk bahasanya secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimic wajah dengan cara berkomunikasi.
            Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi system bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari system bunyi tersebut dikenal dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan kalimat �mam� yang artinya �makan�.
            Perkembangan sinteksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan suatu pemikiran dan kalimat yang utuh. Pada dua tahun pertama anak tidak melibatkan kata sandang, sifat maupun kata keterangan didalam berkomunikasi. Dengan bertambahnya usia anak seiring dengan perkembangan didalam berbahasa mulai melibatkan komponen ponologi maupun morpologi lebih banyak perbendaharaan/mengucapkan 3-4 kosa kata. Ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang anak yang menggunakan intonasi didalam menanyakan suatu informasi dengan memberikan penekanan pada kalimat seperti �makan ayam�, �kakak sekolah�.
            Bocoler and linke (1996) memberikan suatu gambar tentang kemampuan berbahasa anak usia 3-5 tahun. Pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosa kata dan tKamu Tanya �apa�, �siapa�, sedangkan pada usia 4 tahun anak mulai pandai bercakap-cakap, seperti member nama usia, alamat, dan sudah mulai memahami waktu. Adapun beberapa aturan didalam menggunakan bahasa yang tepat pada waktu/situasi sosial yang berbeda. Seorang anak dapat dikatakan memiliki suatu kompetensi berkomunikasi ketika telah memahami penggunaan bahasa yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
            Didalam hal ini anak perlu/membutuhkan suatu bimbingan dari orang yang telah dewasa untuk membimbing anak dalam menggunakan kalimat/kosa kata yang paling tepat didalam menyampaikan suatu kata, berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata/bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyampaikan dan menyatakan kata atau mengkomunikasi pikiran, ide-ide maupun suatu perasaan yang sedang dialami anak, contohnya sedih dan senang. Ada dua tipe perkembangan anak didalam berbicara, yaitu :
 1.    Egosentrie Speech
            Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara pada dirinya   sendiri (monolog- mengoceh sendiri) pada saat main boneka.
2.    Socialized Speech
            Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial anak. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu :
1)    Saling tukar informasi untuk tujuan bersama
2)    Penilaian terhadap ucapan/tingkah laku orang lain
3)    Perintah, permintaan, ancaman
4)    Pertanyaan
5)    Jawaban
  1.    Ketepatan ucapan (pelafalan)
  2.    Penekanan/penempatan nada dan durasi yang sesuai
  3.    Pemilihan kata
  4.    Ketepatan sasaran pembicaraan (tata krama)
  1.   Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimic wajah yang tepat
  2.   Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
  3.   Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara
  4.   Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topic.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar/sekedar membeo sebagai berikut :
  1.   Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan         objek yang diwakili.
  2.   Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
  3.   Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar/menduga-menduga.
            Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
1.    Motherese, recasting (menyusun ulang).
2.    Echoing (menggemakan)
3.    Expanding (memperluaskan)
4.    Labeling (memberi nama).
Expanding adalah menyatakan ulang apa telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata (ucapan).
1.    Tahap eksternal yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2.    Tahap egosentris yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3.    Tahap Internal yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
PENUTUP
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya �mam� maksud disini anak tersebut bilang �makan�. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.


BAB I
A.    Latar Belakang
            Al-Ghazali ra dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah menyebutkan: �Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya�. Anak merupakan amanat ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial), niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial) serta ditelantarkan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan baik fisik, mental, maupun spiritual sang anak.
Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah.
            Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput juga dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya.  Pemerolehan bahasa oleh anak-anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itulah masalah ini mendapat perhatian besar. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.



BAB II
A. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tKamu atau symbol. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.
Bahasa adalah simbolisasi dari sesuatu idea atau suatu pemikiran yang ingin dikomunikasikan oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima pesan melalui kode-kode tertentu baik secara verbal maupun nonverbal. Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal.
Selain itu, bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tKamu gestural, dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.
Tahapan-tahapan Umum Perkembangan Kemampuan Berbahasa Seorang Anak, Yaitu:
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: �ba�.ba�, ma..ma�.�
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
B. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Menurut Beberapa Ahli
�Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu:
1. Tahap pralinguistik
2. Tahap protolinguitik
3. Tahap linguistik
Bzoch�  membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu:
1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik
Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik.
Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi.Selanjutnya, intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.
2. Kata � kata pertama : transisi ke bahasa anak
Terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tKamu dimulainya pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak.
Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.

3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.
Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.
Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa
a. Perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu:
1. Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian Bundanya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.
-Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila Bundanya memberi tanggapan.
-Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi Bundanya.
-Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah. -Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi Bunda, bayi, dan benda-benda.
-Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. -Pada usia 2 tahun,  anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku Bunda yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru.
-Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan.
Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Bunda memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.
2. Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya.
Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak prasekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar.
Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.

3. Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa �kalimat satu kata� sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.
4. Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.
5. Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna.          
Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.
C. Perkembangan Berbicara Pada Anak
Alat komunikasi berbicara pada anak menggunakan gerakkan dan tKamu isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan suara �ocehan� yang kemudian menjadi system symbol bunyi yang bermakna.
D.    Tujuan Berbicara            Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghBundar, melapor, membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan dalam aspek kebahasan, yaitu :
Sedangkan faktor aspek non kebahasaan yaitu :
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan suatu frekuensi dan hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna/kalimat yang sama dengan menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu pertanyaan.
Echoing adalah mengulangi apa yang telah dikatakan anak, khususnya ungkapan/ucapan (bahasa) anak yang belum sempurna.
Labeling adalah mengidentifkasi nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perkembangan bicara anak tergantung pada tumbuh kembang ucapan (pelafasan) bicara anak tersebut. Didalam pembelajaran bicara pada anak usia dini orang tua sangat berperan penting, karena tanpa bantuan dari orang tua/dewasa anak tidak akan bisa berbicara/celoteh (ocehan).
Adapun maksud dari tujuan perkembangan bicara anak untuk melatih/mengucapkan kata-kata/kosa kata, contohnya �mam� maksud disini anak tersebut bilang �makan�. Karena adanya dampak keterlambatan bicara/gangguan bicara anak terpengaruh dari lingkungan tempat tinggal anak tersebut dan kurangnya pola asuh dari orang tua untuk mempelajari/mengajari anak untuk berbicara, jadinya anak lamban untuk berbicara (ngeloceh/celoteh) dan terpengaruh dari sosial yang anak tidak sukai oleh anak.
B.    Saran
Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara.